Tampilkan postingan dengan label YummyLit Series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label YummyLit Series. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

[REVIEW] Cooking with You - Yoana Dianika

Diposting oleh My Booklicious di 09.33 0 komentar

Judul: Cooking with You
Penulis: Yoana Dianika
Penyunting: Laurensia Nita
Perancang Sampul: Nocturvis
Pemeriksa Aksara: Intan & Septi Ws.
Penata Aksara: Gabriel
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: Maret, 2014
ISBN: 978-602-7888-97-5

BLURB

Kalimatmu saat One Day Cooking membuatku terkesiap. Menggaung di otak kecilku, bercokol di sana, dan membungkam bibirku. Ada sesuatu yang membuatku ingin menangis saat itu, tentang kenangan lama, yang tidak akan pernah terlupa.

Jadi, kalau saat ini aku berharap, apakah salah? Apakah sekarang semua sudah terlambat? Termasuk dalam memahami perasaanku sendiri.
Karena yang kuinginkan hanya satu. Tidak hanya satu hari, tapi memasak bersamamu...seumur hidupku...

***

Zuri sangat mencintai dunia pastry. Namun, mimpinya menjadi patissier harus pupus begitu saja karena luka lama. Hingga kemudian Zuri berkenalan dengan Errol, pria berwajah baby face yang akan mengikuti kompetisi surfing di Pantai Nembrala. 

Errol menyadari bakat Zuri sejak mencicipi scone jahe buatan gadis itu. Maka, dia menyarankan Zuri untuk ikut kompetisi pastry. Zuri tidak menyangka bahwa kompetisi itu akan mempertemukannya dengan seseorang yang sedang dia hindari, sekaligus mengingatkannya pada kenangan lama tentang pastry.

***

Aku baru tau kalau selain 6 novel seri yummylit yang terbit tahun 2016 lalu ternyata ada juga novel seri ini yang terbit lebih dulu. :D

Sebagai penikmat cerita-cerita yang kalem dan cenderung sendu, novel ini cukup membuat mood bacaku terjaga sampai tamat karena nuansa ceritanya yang 'melow'. Konfliknya juga menarik. Beberapa bagian dapat ditebak, tapi kejutannya juga enggak kalah banyak. Bacanya jadi enggak mau melewatkan satu halaman pun.

Penokohannya juga cukup kuat. Ada Zuri, gadis bermata prominent yang pendiam dan sulit mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Ada Errol, laki-laki Jepang yang ramah dan gampang empati sampai sering bertindak spontan menenangkan orang lain. Sayangnya terdapat banyak pengulangan detail yang enggak perlu.

Alurnya maju dengan sisipan flashback di bagian tertentu. Penyisipannya juga rapi dan enggak mengganggu alur utama. Sayangnya, jalan ceritanya terkesan lambat karena banyaknya proses memasak yang dijelaskan dengan detail dan bikin cerita inti jadi seperti tersekat.

Gaya penyampaian cerita dan tata bahasanya cukup rapi. Untuk penggunaan istilah asingnya sendiri, tentang pastry maupun surfing, sudah aman karena ada catatan kaki. Jadi pembaca juga enggak terlalu bingung.

Keseluruhan, novel ini memang memuaskan dan cocok bersanding dengan seri yummylit lama yang lainnya.

Baca juga review seri yummylit: DEESSERT by Elsa Puspita.




Read More >>>

Senin, 10 Juli 2017

[REVIEW] Strawberry Cheesecake - Ayuwidya

Diposting oleh My Booklicious di 15.53 0 komentar

Judul: Strawberry Cheesecake
Penulis: Ayuwidya
Penyunting: Hutami Suryaningtyas dan Dila Maretihaqsari
Perancang Sampul: Nocturvis
Ilustrasi Isi: labusiam
Pemeriksa Aksara: Kiki Riskita Sari
Penata Aksara: Anik Nurcahyati & Martin Buczer
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: Maret 2016
ISBN: 978-602-291-138-8

BLURB

Selama menjadi artis terkenal, tantangan kali ini benar-benar mengusik Alana. Demi menarik simpati pujaan hatinya, Alana menerima tantangan itu. Reality show membuat kue! Di sinilah petaka dimulai. Alana bisa melakukan apa pun, kecuali memasak! Kalau bukan karena Aidan, mana mungkin ia bersusah-susah melakukan ini.

Ia terpaksa harus berbohong di depan kamera, pura-pura mahir. Adonan menjijikkan, kue bantat, dekorasi mengerikan adalah hasil karya Alana selama proses syuting. Untungnya, ia bertemu Regan di kafe tempat mereka syuting. Alana takjub dengan kemampuan Regan membuat kue. Karenanya, Alana membujuk Regan habis-habisan untuk mengajarinya.

Meski Regan galak dan menyebalkan, Alana terpaksa belajar darinya. Alana benci harus menghadapi Regan yang sok cool itu setiap hari. Ia benci terlihat bodoh di depan Regan. Dan, yang paling tidak disukai Alana adalah ia benci harus menyangkal tunas-tunas perasaan yang tumbuh di hatinya, untuk Regan.

***

Alana

Demi mendapatkan hati Aidan, Alana melakukan kebohongan yang akhirnya membawa Alana pada Celebrity Cake Show. Dalam reality show tersebut, Alana ditantang untuk membuat berbagai macam kue dan dinilai oleh beberapa juri. Untuk keperluan acara tersebut, Alana dibawa ke Strawberry Garden Deli dan bertemu dengan Regan.

Regan

Kekecewaan pada sang ayah membuat Regan memutuskan untuk pergi dari Jakarta. Regan sudah lelah membohongi diri sendiri dengan mematuhi ayahnya untuk tidak menjadi chef, padahal dunia pastry adalah kesukaannya. Ia akhirnya datang ke deli demi mengenang lagi masa-masa bahagia saat sang ibu masih di sisinya. 

"Ketika hidup mengecewakan, pelarian terbaik adalah kenangan saat diri merasa dicintai." (Regan, hal. 21)

Bertemu dengan Regan adalah suatu keberuntungan bagi Alana. Meski awalnya Alana kesal karena Regan memberi komentar buruk pada kue buatannya, namun dari sana pula Alana menjadi tahu tentang keahlian Regan dalam membuat kue. Alana pun memanfaatkan hal itu dan meminta Regan membantunya. Dengan berbagai bujukan dan syarat, akhirnya Regan bersedia membantu Alana.

Membantu gadis selebriti itu berarti Regan harus siap menghadapi orang-orang terdekat yang akhirnya mengetahui hobi tersembunyinya. Namun, menghabiskan banyak waktu bersama gadis itu juga telah menimbulkan debar-debar asing di dada Regan. Di sisi lain, Alana juga mulai bingung dengan hatinya: apakah masih sepenuhnya milik Aidan? atau sebagian telah ditempati Regan?

"... seharusnya kamu tidak usah melakukan hal-hal yang kamu tidak suka .... Sayang kalau waktumu itu dihabiskan untuk mengerjakan hal-hal yang tidak kamu suka. Kapan kamu mau menikmati bahagia kalau begitu?" (Regan, hal. 89)

".... Nyatanya, kadang kita harus melakukan sesuatu yang kita benci untuk orang yang kita cintai." (Alana, hal. 89--90)

***

"Kita punya cara sendiri-sendiri untuk bertahan hidup tanpa orang yang kita cintai. Sebagian orang bertahan dengan memori, sebagian lagi justru terluka karena memori." (Kakek, hal. 142)

Yeaaayy... akhirnya ketemu seri Yummylit lagi. Strawberry Cheesecake ini merupakan novel yummylit ke-5 yang kubaca, sekaligus menjadi karya pertama Kak Ayuwidya yang kucicipi. Dan dibandingkan dengan seri yummylit lain yang sudah kubaca, novel ini memiliki kesan lebih ringan.

Penceritaannya dibawakan dengan santai, namun tetap rapi dan nyaman dibaca. Selain itu, penggunaan sudut pandang orang pertama juga sangat berpengaruh terhadap kesan yang kutangkap sebagai pembaca. Saat POV Alana misalnya, kalian bisa membayangkan ekspresi bosannya saat menonton tutorial membuat kue. Atau saat POV Regan, kalian akan hanyut dengan kisah mimpinya yang ditentang sang ayah. Dua situasi yang berbeda ini tertolong dengan adanya POV orang pertama, sehingga pembaca dapat merasakan posisi masing-masing tokoh.

Ceritanya dibawakan dengan alur maju. Bagian kisah masa lalu Regan pun hanya disampaikan lewat narasi saat ia menjadi pencerita. Konfliknya cukup beragam, tentang mimpi, keluarga, sahabat, juga tentang cinta. Dan karakter tokoh-tokohnya pun membuat cerita semakin hidup.

Regan digambarkan sebagai sosok yang tenang dan mampu bersikap dewasa. Sedangkan Alana sebaliknya. Ia kadang terlalu spontan dalam bertindak. Dan yang paling membuat gemas adalah bagaimana Alana begitu buta oleh cinta sesaat hingga rela berbohong demi Aidan. Padahal perasaannya mudah goyah oleh kehadiran Regan, namun ia kurang tegas dalam membuat keputusan. Lalu bagaimana dengan Aidan? Aku sama sekali enggan membahasnya. Dia terlalu menyebalkan, sama sekali bukan sosok idaman.

Pokoknya, kalau kalian sedang lelah dengan kisah cinta yang bernuansa sendu, Strawberry Cheesecake ini bisa jadi salah satu pilihan. Kelakuan Alana kalau sudah membuat kue kadang bikin senyum sendiri. Dia cukup pede meski tau kue buatannya pasti gagal. 😂😂 Dan yang paling penting, kalian bisa uji coba sendiri lewat resep-resep Regan yang ada di bagian akhir cerita.

Selamat berburu kue kesayangan dan jangan lupa baca juga seri yummylit lainnya.





Read More >>>

Senin, 24 April 2017

[REVIEW] Little Bit of Muffin - Aiu Ahra

Diposting oleh My Booklicious di 11.43 0 komentar



Judul: Little Bit of Muffin
Penulis: Aiu Ahra
Penyunting: Ikhdah Henny
Perancang sampul: Nocturvis
Pemeriksa aksara: Septi Ws & Kiki Riskita
Penata aksara: Nuruzzaman
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-602-291-122-7

BLURB

Sugar Bakery, harum kue yang baru matang, pekatnya cokelat, gurihnya krim keju, semua mengingatkan Kesha akan Evan, partner chef yang ia cintai. Pria yang kini pergi jauh, mewujudkan mimpinya studi ke luar negeri. Pria yang bahkan tidak sempat mendengarkan isi hati Kesha yang tersembunyi. Pria yang kemudian membuat Kesha mengambil keputusan, meninggalkan dunia pastry. Mau Kesha hanya satu, melupakan segala tentang Evan di dapur Sugar Bakery.

Namun, keadaan gawat di Sugar Bakery membuat Kesha terpaksa menarik keputusannya. Ia kembali ke Sugar Bakery dengan seabrek tantangan baru, menyelamatkan bisnis keluarga yang telah dirintis mendiang ayahnya itu. Sekali lagi, Kesha menjejakkan kaki di dapur dengan semua kenangan Evan yang tertinggal. Berbaur kembali dengan resep-resep kue, staf dapur, dan Gathan, partner chef-nya yang baru.

Tak mudah bagi Kesha menguasai dapur, sementara hatinya masih kalut. Terlebih lagi, Gathan bukanlah sosok yang menyenangkan. Kehadiran pria itu sering kali membuatnya jengkel karena sifat dinginnya. Namun, muffin yang dipanggang pria itu kemudian menghadirkan rasa hangat di hatinya. Mungkinkah cinta dapat terlahir kembali? Lewat gigitan kecil pada muffin yang ia nikmati bersama pria yang juga memendam masa lalu itu?  
 

***

"Muffin itu sederhana, apa adanya. Nggak perlu menghiasnya sedemikian rupa, rasanya udah enak. Yah, kayak kamu ini. Nggak perlu didandani, tapi tetep enak dilihat." (hal. 22)

Kesha sangat menyukai dunia pastry, seperti mendiang ayahnya. Dengan kemampuan yang diwarisinya dari sang ayah, Kesha ikut membantu di Sugar Bakery, ditemani partner chef-nya, Evan. Kepribadian Evan yang hangat dan menyenangkan membuat Kesha memiliki perasaan lebih dari sekadar rekan kerja. Sayangnya ia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya, bahkan sampai hari kepergian Evan ke Italia. Tanpa Evan, Kesha kehilangan semangatnya. Ia kemudian memutuskan untuk tidak kembali ke Sugar Bakery.

Keadaan Sugar Bakery yang mengkhawatirkan sejak ditinggal Evan membuat mama Kesha merekrut Gathan sebagai chef baru, menggantikan Evan. Kehadiran Gathan membawa angin segar bagi Sugar Bakery, hingga mereka menerima pesanan besar untuk sebuah acara. Kurangnya tenaga dapur membuat Kesha turut membantu, meski atas paksaan mamanya. Namun, bukan terbantu, ulah Kesha malah membuat semuanya kacau. Sang mama menuntut tanggung jawab Kesha, sebagai staf dapur sekaligus sebagai calon penerus Sugar Bakery.

Kesha akhirnya kembali ke dunia pastry, berkutat dengan berbagai adonan kue, dan bergabung dengan Gathan untuk memajukan Sugar Bakery. Sayangnya, emosi Kesha masih belum stabil. Ia sering kali tersinggung setiap Gathan menegurnya saat salah. Apalagi cara Gathan berbicara terkesan dingin dan sombong. Berdekatan dengan Gathan membuat tekanan darahnya selalu berada di titik tertinggi.

Di sisi lain, Kesha juga tahu bahwa Gathan masih terjebak dengan masa lalunya, meski belum paham secara detailnya. Kesha jadi merasa bahwa ia tidak sendirian. Dua orang yang masih menyimpan luka masa lalu itu akhirnya berusaha saling menyembuhkan satu sama lain. Kesha mulai menyemai harap, sayangnya hati Gathan masih dipenuhi keraguan. Belum lagi, sosok dari masa lalu mereka datang bergantian.

Apa yang akan mereka lakukan? Memperjuangkan harapan baru atau kembali pada masa lalu?

"Apa tujuan kamu jalin hubungan sama aku cuma karena mau ngelupain Lidya? Bukan untuk nyoba balas perasaanku?" (hal. 162)

***

Little Bit of Muffin menjadi seri YummyLit selanjutnya yang kubaca. Ide cerita novel ini sebenarnya cukup umum, tentang dua orang yang terluka oleh sosok di masa lalu kemudian berusaha saling menyembuhkan. Namun, dengan bumbu dunia kuliner dan pastry, ditambah pula sisipan berbagai resep muffin, novel Little Bit of Muffin ini jadi lebih menarik.

Konfliknya cukup naik turun. Apalagi di bagian awal, sosok Gathan begitu tertutup sehingga usaha Kesha untuk mendekat cukup mengalami ganjalan. Sebenarnya, ada beberapa bagian yang cukup tertebak, misalnya kemunculan sosok dari masa lalu yang membuat hubungan keduanya kembali dingin dan renggang. Namun, berbagai analogi tentang muffin serta kisah seputar mama Kesha dan Sugar Bakery jadi pelengkap yang mampu menambah variasi.

Cerita Kesha dan Gathan ini dijabarkan dengan alur maju, dengan selipan beberapa bagian masa lalu, baik dalam bentuk narasi maupun percakapan. Diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga, membuat penulis jadi lebih leluasa menjelaskan berbagai hal tanpa kecenderungan memihak salah satu tokoh yang ada.

Kalau diminta memilih tokoh favorit, jawabanku adalah Evan. Dia sosok yang hangat, perhatian, pengertian, dan juga tegas dalam mengambil keputusan. Sedangkan Kesha, meskipun dia tokoh utama, tapi aku dibuat gemas dengan sikapnya yang cukup emosional. Tapi keteguhannya sangat kuacungi jempol, apalagi kalau sudah berhadapan dengan Laura.

Selanjutnya, ada Gathan. Well, tokoh yang dingin biasanya lebih menantang untuk ditaklukkan, tapi untuk kasus di sini, rasanya sikap Gathan cukup menguji kesabaran Kesha. Kan jadi kasian!! 😑😑 Dan terakhir, tokoh paling nyebelin dan 'malesin' di novel ini, Laura. Dan bagian paling nyebelin menurutku adalah saat persahabatan bertahun-tahunnya dengan Gathan dibanding-banding dengan Kesha-Gathan yang belum kenal terlalu lama. Kan ngeselin. Mentang-mentang udah lama kenal, bisa seenaknya gitu? 😡😡
.
Pokoknya kalau nyeritain Laura cuma bikin darah tinggi. Yang penting, jangan jadi kayak dia, yang datang kalau pas butuh aja. Kalau ada yang seperti itu, jauhin-tinggalin sekalian. Bukan maksud jelek, tapi mereka yang begitu juga perlu mendapat pelajaran berharga biar gak terus semena-mena. Dan yang terakhir, jangan terpaku pada masa lalu. Ia tak akan hilang, akan selalu ada, tapi bukan berarti kita harus terjebak di sana. Saatnya mencoba berdamai dan mulai langkah baru.

Seperti tagline-nya, 'bersamamu, merajut lupa, menyembuhkan luka'. Selamat melupakan dan selamat melanjutkan hidup.





Read More >>>

Sabtu, 04 Maret 2017

[REVIEW] Déessert - Elsa Puspita

Diposting oleh My Booklicious di 06.17 0 komentar



Judul: Déessert
Penulis: Elsa Puspita
Penyunting: Dila Maretihaqsari
Perancang Sampul: Nocturvis
Pemeriksa Aksara: Septi Ws dan Kiki Riskita
Penata Aksara: Nuruzzaman
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: Maret, 2016
Tebal Buku: 318 halaman
ISBN: 978-602-291-121-0

BLURB

Bagi sebagian orang, cinta SMA hanyalah salah satu kenangan masa remaja yang mudah saja untuk dilupakan. Namun, bagaimana jika ia kembali hadir di masa kini? Sosoknya yang sekarang jauh berbeda dibandingkan dulu. Ia lebih tampan, lebih berkarisma, dan lebih berpotensi kembali mencuri hati.

Naya begitu kaget melihat Dewa kembali ke Tanah Air, setelah selama delapan tahun sekolah dan bekerja di Australia. Karena campur tangan Lulu, sahabat sekaligus partner bisnis Naya, pria itu kini membantu mengurusi calon resto baru Naya dan Lulu, sebagai pastry chef. Namun, semuanya jadi tidak mudah. Di tengah kesibukan jelang pembukaan Dapoer Ketje, keduanya justru melancarkan aksi perang dingin dengan ego masing-masing.
 
Suasana makin parah degan kehadiran Ava, mantan kekasih Dewa yang datang dari Australia. Juga Dipati, mantan Naya yang seorang artis. Perang dingin di antara mereka tampaknya akan meledak, memuntahkan segala ganjalan yang telah tersimpan selama bertahun-tahun. Sesuatu yang menyadarkan mereka bahwa masa lalu itu belum selesai sepenuhnya.

*** 


“Sebelum masalah di antara mereka selesai sepenuhnya, batu besar dan dinding pembatas itu tidak akan hilang.” (hal. 160)


Naya berpacaran dengan Dewa. Tapi, itu dulu, saat mereka masih SMA. Hubungan mereka sebenarnya masih berlanjut hingga Dewa memutuskan untuk kuliah di Sydney. Namun sepertinya, peri LDR belum berpihak pada mereka. Terhambatnya komunikasi menimbulkan kesalahpahaman yang berujung pada kandasnya hubungan dua sejoli itu. Hingga tahun demi tahun berlalu, keduanya tak saling berkomunikasi dan sibuk dengan hidupnya masing masing.

Naya memutuskan untuk merantau ke Jakarta setelah tamat kuliah. Ia kemudian bekerja sebagai presenter acara kuliner dan akhirya menjalin hubungan dengan Dipati, salah satu aktor yang sedang naik daun. Namun, repotnya menjadi pasangan public figure membuat Naya kapok. Kisah keduanya pun berakhir. Saat program acara kuliner yang dibawakannya berakhir, rasa bosan dan penat membuat Naya kembali ke tanah kelahirannya, Palembang.

Keberuntungan sedang berpihak pada Naya. Saat mengetahui kepulangannya, Lulu—sahabatnya—mengajak untuk bekerja sama mendirikan sebuah restoran. Naya yang memang menyukai bidang kuliner, menyetujui hal itu. Kemudian Naya, Lulu, dan Arfan—pacar Lulu—mulai sibuk membangun calon resto mereka. Memilih tempat, menyusun menu, juga merekrut karyawan. Sayangnya, Arfan yang juga merupakan head chef belum menemukan pastry chef yang cocok untuk resto mereka. Hingga akhirnya kabar itu datang: Dewa akan pulang dari Sydney.

Bagi sebagian orang, berada satu tempat kerja dengan mantan mungkin bukan hal buruk. Tapi itu tidak berlaku bagi Naya. Luka masa lalu masih membuatnya marah Dewa. Bahkan pertemuan mereka di Dapoer Ketje—nama resto Naya dan Lulu—cukup mengagetkan. Pertemuan pertama setelah bertahun-tahun berpisah. Saat itu, Naya memberikan bogem mentah pada rahang Dewa. Beruntungnya, Dewa masih sanggup menahan emosi. Karena urusan pekerjaan di Dapoer Ketje memang tidak bisa ditinggalkan, dan demi agar situasi tetap aman, akhirnya mereka hanya bisa saling menghindar sambil mengurusi urusan masing-masing.

Namun, sebisa apa pun mereka menghindar, ada saatnya mereka harus berduaan, seperti saat Lulu dan Arfan sibuk fitting baju atau saat Lulu ikut menjemput orang tua Arfan. Dua kali diantar pulang oleh Dewa membuat Naya menjadi lebih kalem. Suasana tegang diantara Naya dan Dewa pun berkurang. Sayangnya, itu belum membuat keduanya menjadi terbuka dan membicarakan masalah di masa lalu mereka. Kesalahpahaman masih terus berlanjut. Belum lagi, kedatangan Dipati ke Dapoer Ketje ternyata membuat Dewa merasa ‘panas’, hingga Naya dan Dewa pun kembali bersitegang. Bahkan Ava, mantan Dewa, juga datang dari Sydney sambil membawa ‘senjata rahasia’ yang semakin menjauhkan Naya dari Dewa. 

Kalau sudah begitu, apakah Naya dan Dewa akan mampu berdamai dan menyelesaikan kesalahpahaman itu? Saat Ava menunjukkan sesuatu yang membuat Dewa terlihat buruk di hadapan Naya, akankah Dewa menyerah atau tetap berjuang mendapatkan Naya kembali?



“... cuma kamu yang bisa aku bayangin sebagai orang pertama yang aku lihat pas bangun pagi, dan orang terakhir yang aku lihat sebelum aku tidur tiap malam. ...” (hal. 285)
 

*** 

Déessert menjadi novel YummyLit Series kedua yang kubaca setelah Heartwarming Chocolate. Dan dari lubuk hati terdalam, aku mengatakan CINTA pada novel ini. Jika Heartwarming Chocolate meramu kisah dengan lembut, maka ini adalah kebalikannya. Kisah Naya dan Dewa yang memang menguras emosi diwujudkan dalam cerita yang juga meledak-ledak dengan perwujudan emosi yang tidak ditahan-tahan.

Ide cerita tentang kisah masa lalu yang belum usai memang sudah banyak di angkat. Tapi itu tidak membuat cerita Naya dan Dewa ini jadi membosankan. Kak Elsa meramunya dengan baik, hingga dari bahan dasar biasa mampu menjadi ‘hidangan’ yang istimewa. Gaya berceritanya mengalir, kalimatnya lugas, dan tidak berbelit-belit. Belum lagi, makanan-makanan yang dibuat Dewa tidak hanya menjadi tempelan yang diberi detail penjelasan, tetapi juga menjadi bagian yang menyatu dengan kisah Naya dan Dewa.

Sebagai opening, Kak Elsa menceritakan Naya dan Dewa yang ‘jadian’ pada tahun 2004. Kemudian cerita meloncat pada sepuluh tahun kemudian, saat Naya sudah bekerja di Jakarta, hingga pulang ke Palembang di tahun yang sama. Dan di tahun itu pula, Dewa pulang dari Sydney. Kemudian latar waktu tetap pada tahun yang sama hingga cerita mencapai bab terakhir. Keping-keping kisah saat Naya dan Dewa masih pacaran tersebar dalam beberapa bagian dan disajikan dalam bentuk kilas balik. Sedangkan untuk bagian closing, digunakan latar Palembang setahun kemudian. Sayangnya, untuk bagian penulisan tahun itu terdapat kesalahan penulisan, yaitu “Jakarta, 2004” (hal. 4) dan “Sydney, 2004” (hal. 16). Jika yang dimaksud adalah sepuluh tahundari masa SMA mereka, maka seharusnya itu adalah tahun 2014. Tapi selain itu, semuanya sudah rapi.

 Penggunaan sudut pandang orang ketiga juga membuat cerita ini seimbang. Tidak fokus pada Naya saja atau pun Dewa saja. Kak Elsa memberikan porsi yang seimbang baik dari segi dialog maupun narasi. Emosi yang disampaikan juga berimbang, tidak berat di salah satu. Aku sebagai pembaca dibuat gemas berkali-kali mengetahui bagaimana keras kepalanya dua tokoh utama novel ini. Ada kalanya kesal pada Naya, ada pula saat untuk kesal pada Dewa.

Karakter tokoh-tokohnya juga mendukung. Dewa yang lebih cenderung pendiam, dingin, dan cuek berbanding terbalik dengan Naya yang lebih lepas meluapkan emosinya, entah saat sedih atau pun marah. Kehadiran Lulu juga sangat membantu, apalagi Lulu sendiri adalah kakak kandung Dewa. Sosok Lulu adalah sahabat yang menyenangkan. Sebagai kakaknya Dewa sekaligus sahabat Naya, Lulu menjadi sosok idaman dengan sifatnya yang cenderung netral. Tidak memihak Dewa, tidak juga memihak Naya. Lulu adalah pemberi saran yang baik, namun bukan pemaksa. Sosok Damar—kakak Naya—juga baik. Sebagai wali Naya, Damar merupakan kakak idaman yang siap berdiri paling depan untuk melindungi adiknya. Dipati juga sebenarnya sosok yang baik, hanya saja kemunculannya tidak sebanyak dan semenyebalkan Ava. Bagiku, Ava adalah nenek sihir yang egois dan tidak mau kalah. Kemunculannya benar-benar membawa bencana. Terima kasih pada Kak Elsa yang telah membuatku ingin menggiling Ava dalam mesin cotton candy. *ini efek kelewat benci*

Secara keseluruhan, novel ini dua jempol banget. Cara bercerita dan emosi yang tersampaikan membuat lebih dari 300-an halaman ini tidak sia-sia untuk dibaca. Aku banyak belajar hal penting tentang menguatkan dan melapangkan hati untuk memberi dan menerima penjelasan orang lain demi menyelesaikan masalah, selalu mengambil keputusan dengan kepala dingin, dan tahu waktunya kapan harus ngotot berjuang dan kapan harus pasrah. Dan yang paling penting, selalu percaya pada hati kecil, karena hati tahu apa yang diinginkan.

Seperti tagline-nya, ‘hatiku dan hatimu, tahu apa yang dipilihnya’.
 
PS: 

Setelah membaca novel ini, pembaca akan tahu mengapa judulnya Déessert, bukan Dessert. Artinya sama nggak, sih? Cari tahu sendiri, ya... 
 
  



Read More >>>
 

My Booklicious Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea