Kamis, 14 September 2017

[REVIEW + BLOGTOUR] The Sun is Also a Star - Nicola Yoon

Diposting oleh My Booklicious di 05.47 3 komentar

Judul: The Sun is Also a Star
Penulis: Nicola Yoon
Penerjemah: Airien Kusumawardani
Penyunting: Selsa Chintya
Desain Sampul: Irene Ritonga
Layout Sampul: @teguhra
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun Terbit: April 2017
ISBN: 978-602-60443-6-5

BLURB

Natasha : Aku seorang gadis yang hanya percaya pada sains dan fakta. Peduli setan dengan takdir, atau cita-cita yang tak akan pernah jadi nyata. Aku jelas-jelas bukan jenis gadis yang bisa jatuh cinta pada seorang pemuda yang kutemui secara acak di jalanan Kota New York. Belum lagi ketika keluargaku akan dideportasi kembali ke Jamaika dalam hitungan dua belas jam. Jatuh cinta, tidak akan pernah menjadi bagian dalam kisahku.

Daniel : Aku selalu menjadi anak yang baik, siswa yang baik, menjalani ekspektasi orangtuaku yang tinggi. Tidak pernah menjadi pemimpi, apalagi penulis puisi. Tapi saat aku melihat gadis itu, aku melupakan semuanya. Sesuatu tentang Natasha membuatku berpikir bahwa takdir memiliki sesuatu yang luar biasa... bagi kami berdua.

***

"Aku tidak suka hal-hal yang sifatnya sementara dan tidak dapat dibuktikan, dan cinta romantis adalah sesuatu yang sifatnya sementara dan tidak dapat dibuktikan." (Natasha, hal. 13)

Natasha, anak pertama dari sebuah keluarga asal Jamaika yang tinggal di New York secara ilegal. Keluarga mereka akan segera dideportasi. Karenanya, sejak pagi, saat adiknya sibuk bersiap untuk pindah, Natasha sudah keluar rumah, pergi ke Kantor Pelayanan Kewarganegaraan dan Keimigrasian Amerika Serikat (KPKKAS). 

Status imigran gelap mereka terungkap saat ayah Natasha mengemudi dalam keadaan mabuk. Beruntungnya, setelah yang percakapan menguras emosi, Natasha diberi alamat kantor Pengacara Fitzgerald yang mungkin bisa membantunya. Hanya itu satu-satunya kesempatan yang dimiliki Natasha.

Daniel, anak kedua dari sebuah keluarga berdarah Korea. Kakaknya Daniel, Charles, selalu jadi yang terbaik, calon dokter dari Harvard. Namun, kejutan menimpa keluarga Daniel ketika kakaknya 'dipulangkan' oleh pihak kampus. Lalu, tekanan berpindah pada bahu Daniel.

Kemudian mereka bertemu. Hari itu, Daniel harus mengikuti wawancara bersama alumnus Universitas Yale. Namun, ia menaiki kereta yang dikemudikan masinis 'aneh'. Ia segera turun di pemberhentian. Saat itulah Daniel melihat seorang gadis tengah berjalan di trotoar sambil memejamkan mata, telinganya mengenakan headphones pink yang mencolok. Sesuatu mendorongnya untuk mengikuti gadis itu--menuju toko piringan hitam, Second Coming Records.

Pertemuan pertama sekaligus perkenalan mereka terjadi di Second Coming Records. Gadis itu adalah Natasha. Saat itu, Natasha sedang menunggu jadwal bertemu Si Pengacara. Setelah berkenalan, kemudian ada aksi penyelamatan, dan perbincangan panjang di sebuah kafe, Daniel semakin tertarik pada Natasha. Bahkan meskipun Daniel tahu bahwa Natasha tidak percaya pada cinta.

Sayangnya, pertemuan Daniel-Natasha sementara harus diakhiri untuk keperluan masing-masing. Namun Daniel mengambil keputusan ekstrem itu: menjadwal ulang wawancaranya agar bisa lebih lama bersama Natasha.

Daniel belum tahu kalau Natasha akan dipulangkan ke negaranya. Bahkan setelah keduanya merasa nyaman satu sama lain, waktu mereka untuk bersama nyaris habis, direnggut sebuah aturan.

Apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya? Apa Natasha berhasil mendapatkan izin untuk tetap tinggal di AS? Lalu, apa Daniel berhasil meyakinkan Natasha tentang cinta dan membuatnya jatuh cinta secara ilmiah?

"Bagaimana mungkin kau bisa memercayai sesuatu yang bisa berakhir dengan begitu mendadak, seperti saat sesuatu itu bermula?" (Natasha, hal. 71)

***


"Bagaimana kalau aku memberitahumu bahwa aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku secara ilmiah?" (Daniel, hal. 94)

Novel The Sun is Also a Star ini memberi kisah roman dengan cara berbeda, bahwa ketertarikan tidak hanya ditimbulkan oleh fisik, tapi juga dari pemahaman dan cara berpikir. Dua remaja cerdas yang jadi tokoh utama membuat cerita ini jadi tidak berlebihan.


Plotnya rapi, penggunaan sudut pandang dan pembagian bab-nya juga unik. Jika judul bab menggunakan nama Natasha, maka bagian itu menggunakan PoV Natasha. Begitu pula dengan Daniel. Namun, ada bagian-bagian tertentu, berisi penjelasan banyak hal (misalnya tentang asal-usul nama keluarga Daniel, tentang istilah 'irie' di Jamaika, atau tentang gaya rambut Amerika-Afrika) yang itu diceritakan dengan PoV ketiga.

Karakter tokoh-tokohnya begitu kuat. Natasha dan Daniel, sama-sama remaja tangguh yang sanggup memikirkan berbagai hal dan urusan jangka panjang, bukan hanya yang sibuk main dan jalan-jalan. Ayah Natasha yang bisa dibilang 'egois', sibuk memikirkan mimpinya. Ibu Natasha yang cukup realistis. Kemudian Keluarga Daniel yang bisa kukatakan 'menyebalkan' dan cukup rasis. 

"Aku mengerti ketakutannya. Siapa diri kita kalau bukan produk dari orangtua kita dan sejarah mereka?" (Natasha, hal. 165)

Dialog Daniel-Natasha ini seringnya membuat greget, lucu, dan manis. Bahkan, narasinya banyak mengandung kalimat filosofis dan mengaduk emosi. Di bagian awal saja aku sudah menitikkan air mata membaca kisah perjuangan Natasha agar tidak dideportasi. Tidak heran kalau untuk menyelesaikan buku ini butuh suasana santai dan waktu yang luang.


"Apa kau tahu bagaimana rasanya tidak diterima di mana pun?" (Natasha, hal. 33)

Ini pertama kalinya aku membaca karya Nicola Yoon, dan aku suka sama gaya kalimatnya. Selain itu, aku juga baru pertama kali membaca novel terbitan Spring. Terjemahannya rapi, pantas kalau selalu jadi rekomendasi, begitu pun dengan novel ini. Kalimat-kalimatnya baku dan sesuai dengan konten novelnya yang memang cukup menguras pikiran. Rasanya akan aneh kalau kalimat-kalimat filosofis dibahasakan dengan bentuk 'alay' dan kekinian. :D Oh, dan jangan lupakan covernya yang aduhai cantik sekali. <3 <3

Pokoknya, novel ini tidak hanya tentang roman, tapi juga tentang ilmuwan dan penyair yang berbagi pemahaman mereka tentang banyak hal lewat banyak kejadian, temtang harapan dan kenyataan, realis dan penuh angan, egois dan empati. All in one.

"Kalian para penyair sangat terobsesi pada bintang ... tapi kenapa tidak ada lebih banyak puisi tentang matahari? Matahari juga sebuah bintang, dan itu bintang kita yang paling penting." (Natasha, hal 203)

Kalau butuh bacaan yang bikin kaki menapak di bumi, novel ini bisa jadi alternatif kalian. 😊😊

~~~~~~~ GIVEAWAY TIME ~~~~~~~


Holaaa!!!

Ada kabar gembira untuk kalian yang penasaran sama novel ini. Kenapa? Karena Penerbit Spring akan memberikan novel ini secara gratis.

Caranya, cukup kunjungi tiap blog host dan kumpulkan setiap kepingan puzzle-nya. Rules lengkap giveaway ada di Fanpage Penerbit Spring setelah jadwal blogtour ini selesai. Jadi, jangan lupa follow fanpage-nya dan pantengin postingannya.

Ini dia kepingan puzzle yang harus kalian kumpulkan dari blog ini:




Semoga beruntung!!!




Read More >>>

Selasa, 12 September 2017

[REVIEW] Dieser Mann - Rincelina Tamba

Diposting oleh My Booklicious di 08.30 0 komentar


Judul: Dieser Mann
Penulis: Rincelina Tamba
Editor: Puput Alvia
Desain Sampul: Sukutangan
Penerbit: Aria Media Mandiri (Shira Media)
Tahun Terbit: 2017
Tebal Buku: 484 halaman
ISBN: 978-602-6657-51-0

BLURB

Diftan Pablo Glambert, seorang mafia tampan dan kaya raya di usia yang baru 30 tahun. Diftan tidak memercayai cinta. Masa lalu yang kelam menjadikannya sosok pria jahat dan dingin kepada semua orang. Hingga suatu ketika, takdir mempertemukan Diftan dengan seorang Arabella, perempuan yang mampu mengubah kehidupannya.

Namun, di saat mereka baru memulai hubungan, Arabella harus menerima kenyataan pahit bahwa ayahnya yang lama menghilang ternyata meninggal karena dibunuh oleh pria yang dicintainya; Diftan. Arabella berniat untuk membalaskan dendam ayahnya dengan bantuan Juan Benito, pria yang tidak lain adalah musuh Diftan.

Bagaimana nasib Diftan di tengah banyaknya musuh di depannya? Apakah usaha balas dendam Arabella berhasil? Lalu, bagaimanakah hubungan Diftan dan Arabella akan berujung?

***

"Memaafkan bukan berarti melupakan luka yang sudah ditorehkan! Satu hal yang harus kau tahu. Luka yang paling menyakitkan adalah luka yang tidak berdarah!" (Diftan, hal. 244)

Adegan pembuka diawali dengan pertemuan Diftan dan Arabella secara tidak menyenangkan. Diftan yang sombong dan kasar memarahi Bella hingga ia kehilangan pekerjaannya. Setelah dipecat, Bella mencoba kerjaan baru. Kemudian, saat Bella kerja, berjualan, ada orang yang memborong barang dagangannya. Orang itu adalah Juan Benito.

Awalnya, mereka tidak langsung berkenalan. Bella malah lebih dulu mengenal Diftan. Apalagi suatu ketika, ada suatu kejadian 'panas'--tembak-tembakan antara Diftan dan musuhnya. Setelah kejadian itu, ada berbagai kejadian manis yang membuat Diftan harus memikirkan ulang pemahamannya tentang perempuan.

Seiring berjalannya waktu, Bella akhirnya mengenal Juan. Ternyata, Juan ini adalah musuh Diftan. Urusan mereka gak sekadar tentang bisnis, tapi juga tentang dendam. Adanya dendam itu membuat mereka ingin menghancurkan satu sama lain. Kedekatan Bella dengan Diftan diketahui oleh Juan.

Bella tidak tahu kalau ayahnya meninggal di tangan anak buah Diftan. Justru, orang yang tau kematian ayah Bella adalah Juan. Hal itu akhirnya dimanfaatkan Juan untuk mengajak Bella bersama-sama menghancurkan Diftan. Selain itu, kemunculan tokoh baru juga membuat suasana semakin memanas. Tokoh itu sanggup membuat Diftan merasa tegang.

Siapa dia dan apa hubungannya dengan Diftan? Lalu, kalau Bella telah bersekutu dengan Juan, bagaimana akhir kisahnya dengan Diftan?

"Jika suatu cerita berakhir dengan sedih, maka itu artinya cerita tersebut belum selesai." (hal. 482)

***

Seperti tertera pada labelnya, novel ini merupakan kisah action-romance, menceritakan tentang Diftan, Arabella, dan Juan. Aku merasa terpuaskan sama kisah romance-nya yang terasa dominan, tapi tetap keren dengan adegan tembak-tembakan sama tonjok-tonjokannya. 

Kemudian, awalnya aku mengira akan menemukan cerita berlatar Jerman karena judulnya berbahasa Jerman. Ternyata, ceritanya ber-setting Jakarta. Hanya saja, terdapat beberapa dialog berbahasa Jerman karena keluarga Diftan sendiri memang memiliki darah campuran Jerman. Dialog itu juga diberi arti pada catatan kaki. Jadi, pembaca tidak akan kebingungan memahaminya.

Alur ceritanya campuran. Sejak awal diberikan alur maju, tapi beberapa bagian masa lalu tokohnya diceritakan dalam flashback. Jalan cerita menuju rencana balas dendam Arabella (yang ada di blurb) cukup lambat, dan entah kenapa, aku justru malah merasa klimaksnya saat kemunculan sosok Max. Penyelesaiannya juga terasa cepat, tapi aku puas sama ending-nya. 

Karakter tokohnya sendiri cukup kuat. Diftan khas dengan 'dingin' dan kekejamannya, Arabella yang polos *kecuali setelah bersekongkol dengan Juan, dan Juan adalah tipe menyenangkan di depan tapi cukup berbisa. Aku juga menyukai tokoh Dea, adik Diftan. Karakternya sebagai remaja tangguh itu cocok. Tidak manja dan tidak matre. Dia paham tinggal di lingkungan seperti apa, dan tahu cara menghadapinya.

Dari beberapa hal itu, yang menurutku perlu perbaikan adalah dari tata bahasanya. Aku masih menemukan kalimat yang agak membingungkan, konsistensi penggunaan kata, misalnya 'duit' atau 'uang' dan pronomina 'saya' atau 'aku', juga kesalahan penulisan dialog tag.

Secara keseluruhan, novelnya cukup ringan untuk bisa diajak baca ngebut. Jadi, kalau kalian suka novel action-romance yang tidak terlalu berat, novel Dieser Mann ini bisa jadi salah satu pilihan.




Read More >>>

Sabtu, 02 September 2017

[REVIEW] After Sunset - Indah Hanaco

Diposting oleh My Booklicious di 23.34 0 komentar

Judul: After Sunset
Penulis: Indah Hanaco
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-02-3791-6

BLURB

Awalnya...
Leah Kannitha: Dia adalah si megalomania sinting yang otaknya kena virus mematikan. Makanya dia perlu membenturkan kepala supaya bisa berpikir jernih.
Liam Hammond: Dia gadis ceroboh yang suka ikut campur urusan orang. Dia kira aku gampang terpesona dengan wajah polos dan mata besarnya?

Akhirnya...
Leah Kannitha: Aku takut ada pembuluh darahku yang pecah karena dia memegang tanganku sambil mengucapkan kata-kata cinta.
Liam Hammond: Ah, kondisiku sama sekali tidak menggembirakan. Aku sedang berusaha keras untuk berhenti menyukainya, karena aku lebih suka mencintainya.

Keduanya punya rahasia. Keduanya punya masa lalu yang menyakitkan. Tapi cinta membuat mereka harus mampu melampaui semua rasa sakit dan kegetiran yang mengadang tanpa perasaan.

Apakah mereka mampu menanggalkan masa lalu?
Mungkinkah masa depan untuk mereka memang ada?
Biarkan cinta melewati ujiannya dan memberikan jawaban.

***

"Sampai kapan kamu mau bertingkah mirip seorang ibu?" (Zsa Zsa, hal. 33)

Leah berubah drastis sejak kepergian mama dan kakaknya. Bukannya seperti gadis 20 tahun, Leah malah seperti seorang ibu-ibu. Papanya, meskipun sibuk bekerja, tapi tetap mengetahui perubahan Leah. Karenanya, papa Leah menyiapkan tiket liburan ke Bali. Leah akhirnya mengikuti keinginan papanya. Leah pergi bersama Emma, sahabatnya, dan Zsa Zsa--sepupu yang menurutnya masih bersikap kekanakan.

Liburan tidak mengubah kenyataan bahwa lubang besar setelah ditinggal sang mama dan kakak membuat Leah merasa kosong dan kerap bermimpi buruk. Bahkan meski telah 7 tahun berlalu, Leah masih sering terbangun tengah malam karena mimpinya itu. Mimpi yang tetap mengusik, termasuk saat malam pertama liburannya di Bali.

Malam itu, karena merasa sulit tidur kembali, Leah memutuskan untuk keluar kamar resor. Duduk di bangku, menghadap laut lepas. Kemudian, di sanalah ia melihat laki-laki itu. Laki-laki yang membenturkan kepalanya ke meja dengan keras. Berkali-kali.

Laki-laki itu seperti sangat kesakitan. Maka, Leah menghampirinya, menanyakan keadaannya. Sayangnya, laki-laki itu malah mengusirnya. Leah pun kaget dan jengkel. Esok harinya, di resor itu pula, Leah oleh Zsa Zsa dikenalkan pada Jen dan teman-temannya yang datang dari Inggris. 

Ternyata, laki-laki yang mengusirnya malam itu adalah salah satu teman Jen. Liam namanya. Laki-laki Inggris bermata abu-abu, mantan pembalap, dan sering menampakkan ekspresi datar.

Leah sudah telanjur kesal dan jengkel pada Liam, dan Liam pun selalu menganggap Leah sebagai orang selalu ingin ikut campur urusan orang lain. Mereka akhirnya seperti melakukan perang dingin. Tanpa banyak debat, tapi tatapan mereka mengandung aura permusuhan.

Namun, di suatu kesempatan, mereka malah saling menceritakan kisah sedih di kehidupan masing-masing. 
Bukankah itu salah satu jalan menuju pintu hati? Kemudian, saat waktu berlibur hampir habis, akankah mereka mengambil kesempatan itu? Kesempatan besar dengan risiko yang sama besarnya.

"Orang yang berbuat kurang ajar harus diajari untuk minta maaf." (Emma, hal. 93)

***

Novel ini menceritakan tentang Leah dan Liam. Leah adalah seorang perempuan berusia hampir 20 tahun, memiliki kepribadian seperti seorang ibu. Tidak hanya dalam sikap, tapi juga dari segi penamilan. Jadoel banget, pokoknya. Kemudian, Liam. Dia adalah laki-laki Inggris bermata abu-abu, seorang mantan pembalap yang selalu memasang ekspresi datar. 

Karakter dua tokoh ini cukup kuat dan memiliki alasan yang logis. Zsa Zsa dan Emma juga memiliki peranan penting dengan karakter yang sama kuatnya. Zsa Zsa yang kekanakan mampu membuat kepala Leah berasap dan membuat suasana di novel ini jadi hidup, lebih ramai.

Dengan setting di Bali dan jangka waktu yang cukup singkat, alurnya jadi terasa cepat. Itu juga mungkin yang membuat karakter tokohnya juga berkembang dengan cepat. Sosok Leah jadi lebih banyak bercanda, dan Liam yang dingin menjadi lebih banyak menebar senyum hangat.

Ceritanya dibawakan dengan beberapa kali pergantian sudut pandang. Bagian awal diceritakan bergantian dari Leah dan Liam. Selanjutnya diambil alih oleh penulis. Namun, mendekati bagian akhir, cerita dibawakan lagi dari Leah dan Liam. Memang harus jeli saat membaca. Karena kalau tidak, pembaca akan bingung siapa yang sedang bercerita. 

Sebenarnya ini bukan pertama kali. Di novel Love Me Again, Kak Indah juga menggunakan POV bergantian seperti ini. Jadi, aku tidak terlalu kaget. Keuntungannya adalah, pembaca jadi tau apa yang sebenernya dirasakan dan dipikirkan si tokoh yang bercerita.

Selain bagian awal yang memang terasa sendu dan cukup menjengkelkan, semakin jauh membaca, aku merasa ceritanya semakin menggemaskan. Jadi, kalau butuh bacaan romance yang cukup ringan, After Sunset ini bisa jadi alternatif kalian.




Read More >>>

Minggu, 13 Agustus 2017

[REVIEW] If You Come Back - Evril

Diposting oleh My Booklicious di 08.21 0 komentar

Judul: If You Come Back
Penulis: Evril
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 9786020295947

BLURB

Enam tahun, Halim Perdana Kusuma selalu percaya bahwa dirinya membenci Mahira, mantan istrinya. Namun, ketika takdir kembali mempertemukan mereka, Halim yakin ada yang salah dengan dirinya. Benci tidak cukup kuat untuk menahan Halim agar tidak mengikuti perempuan itu hingga ke rumahnya—rumah mereka di masa lalu. Jelas itu keputusan yang salah, karena kenekatan itu justru berujung pada pertemuannya dengan Gara, anak laki-lakinya, yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Siapa sangka, kehadiran bocah itu bisa mengubah segalanya. Termasuk membuka rahasia penyebab perpisahan Halim dan Mahira.

***

Halim tidak menyangka bahwa kehidupan rumah tangganya akan kandas di tengah jalan. Ia dan Mahira saling mencintai, tapi entah kenapa Mahira menggugat cerai dirinya dengan alasan yang tidak bisa ia terima. Meski menyesakkan, Halim harus menerima keputusan hakim di pengadilan bahwa ia dan Mahira telah resmi bercerai.

Enam tahun berselang, Halim yakin sudah meletakkan masa lalunya di tempat yang tepat agar hatinya tidak terusik lagi. Tapi melihat Mahira tetap membuatnya penasaran. Dan karena rasa penasaran itu, ia akhirnya melihat Gara, seorang anak berusia 5 tahun yang memanggilnya ayah. Hatinya pun mulai goyah. Apalagi Mahira dengan jelas menyebutkan bahwa Gara adalah putranya, putra mereka.

Halim ingin mengasuh Gara, tapi tentu Mahira akan menahannya. Itu artinya, jika Halim ingin bertemu Gara, ia akan berhadapan dengan Mahira lebih dulu. Hal itu membuat intensitas pertemuan mereka meningkat drastis. 

Kehadiran Gara dan kebersamaan dengan Mahira telah menggoyahkan hatinya. Di tengah kebimbangannya, Halim akhirnya mengetahui rahasia di balik perceraiannya dengan Mahira. Dan saat ia ingin kembali, sosok lain datang mengancam. Namun, kali ini Halim tidak akan menyerah dengan mudah.

"Kalau kamu takut gagal lagi itu wajar, Ra. Tapi kalau nggak kamu lawan rasa takut itu, sampe kapan pun kamu gak akan bisa nerima orang lain masuk ke hati kamu." (hal. 368)

***

Berbeda dengan beberapa seri Le Mariage yang kubaca sebelumnya, novel If You Come Back ini menceritakan kehidupan Halim dan Mahira setelah bercerai. Meskipun begitu, di bagian awal tetap diceritakan kisal awal pernikahan mereka sehingga pembaca tidak terlalu kebingungan.

Untuk bahasa ceritanya sendiri cukup ringan dan nyaman dibaca. Apalagi POV-nya juga dari penulis sendiri sehingga ceritanya gak berat sebelah. Alurnya maju dengan beberapa sentuhan flashback. Memang ada bagian yang mudah ditebak, tapi kelakuan Halim yang kadang jahil cukup menghibur sehingga ceritanya tidak terlalu membosankan. Dan tentunya dengan tambahan bumbu cinta segitiga antara Halim-Mahira-Cakra juga cukup membantu menambah greget pada cerita.

Kenapa bisa greget? Karena karakter tokohnya memang begitu. Mahira kadang gemesin kalau udah marah-marah sama Halim. Tapi Halim ini bikin greget gara-gara hatinya mudah goyah. Ngakunya benci Mahira, dia punya pacar pula, tapi sekalinya Mahira kenapa-napa tetap khawatir. Jadi pendiriannya seperti mudah goyah. Tapi interaksi Halim-Gara juga gemesin banget. Pokoknya kalau Halim, Mahira, dan Gara udah ngumpul, ketiganya jadi seperti keluarga yang banyak bercanda dan bikin rame. 

Hanya saja, yang membuatku aneh adalah bahwa mereka menikah saat masih kelas XII. Sebenarnya bukan gak mungkin, tapi hal itu tetap menimbulkan pertanyaan. Misalnya, "pihak sekolah tau atau enggak kalau mereka sudah menikah? Bagaimana responnya? Memang mereka mengizinkan?". Lalu tentang aturan pernikahan itu sendiri. Setauku, menurut undang-undang tentang pernikahan, usia minimal calon pengantin itu kalau laki-laki 19 tahun dan perempuan 16 tahun. Nah, berapakah usia Halim saat itu? Bisa sih kalau menikah dengan usia di bawah itu, hanya saja harus mengurus perizinan dulu ke pengadilan.

Okelah, daripada jadi melebar kemana-mana. Pokoknya bagian ini menurutku paling mengganjal. Mungkin akan lebih aman dan logis kalau di ceritanya mereka menikah setelah lulus sekolah dan usia mereka sudah dikatakan cukup. Dan mendekati bagian terakhir, ada lagi yang membuat heran lagi, yaitu saat Halim mengikuti lomba panjat pinang. Di sana disebutkan bahwa Gara ingin kulkas yang ada di ujung pohon. Ini asli, aku bingung banget. Kulkasnya digantung di pohon pinang, atau gimana? Masa kulkas yang berat gitu disimpan di ujung pohon?!

Jadi, riset pada beberapa bagiannya perlu diperdalam dan penggunaan kalimatnya harus diperhatikan untuk meminimalkan adanya ambiguitas.

Terakhir, kisah Mahira-Halim ini juga jadi contoh konflik rumah tangga yang masih banyak bertebaran dan bisa dijadikan pelajaran. Apalagi untuk pasangan yang telah memiliki anak. Akan semakin banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan.

Buat kalian pecinta genre romance, jangan lupa lengkapi seri Le Mariage dengan novel If You Come Back ini, ya.




Read More >>>

Jumat, 11 Agustus 2017

[REVIEW] Forever with You - Ria N. Badaria

Diposting oleh My Booklicious di 11.42 0 komentar

Judul: Forever With You
Penulis: Ria N. Badaria
Editor: Astheria Melliza
Desain Sampul: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-602-03-2867-6

BLURB

Bagi Liana Hanjaya, jatuh cinta sama mudahnya seperti berganti model rambut. Dia terlalu mudah dan terlalu sering jatuh cinta pada… laki-laki yang salah.

Lelaki terbaru yang membuat Liana terpesona adalah Dimas, kopilot di maskapai penerbangan ternama. Kali ini, Liana yakin Dimas akan menjadi pria sempurna dalam kisah cinta sempurna seperti yang selalu ditulis Liana dalam novel-novel larisnya.

Namun, fantasi Liana terganjal oleh Rinto, sahabat masa kecilnya yang juga menjadi sahabat terbaiknya. Semakin dekat Liana dengan Dimas, semakin Rinto menunjukkan ketidaksukaannya dan meyakinkan Liana bahwa Dimas juga termasuk lelaki yang salah. Dan di saat yang sama, untuk pertama kalinya, Liana menyadari keberadaan Rinto lebih dari sekadar sahabat.

***

"Kalau sekarang gue bilang gue jatuh cinta sama lu, apa kita akan baik-baik saja?" (hal. 136)

Cerita ini diawali adegan pertemuan Liana dengan laki-laki kenalan ibunya. Namun pertemuan itu seperti biasa, tak memberi hasil yang manis. Dan tentu saja kegagalan kencan buta untuk ke sekian kali itu akan menjadi bahan curhatannya pada Rinto.

Rinto sudah biasa menghadapi curhatan Liana itu. Salah satu tugasnya adalah menenangkan Liana saat dia nyaris putus asa pada kehidupan asmaranya. Memang, menurut Rinto ada yang salah dengan jantung Liana, buktinya jantung selalu berdebar pada orang yang salah. 

Tapi kemudian orang yang membuat jantung Liana berdebar adalah laki-laki yang bersamanya di lift gedung apartemennya. Laki-laki yang mengenakan celana jins, serta pasangan polo shirt dan cardigan hitam. Laki-laki yang menurut Liana begitu sempurna. Dan ternyata... laki-laki itu bermaksud mendatangi apartemen Rinto yang memang berseberangan dengan miliknya. 

Setelah mengorek info dari Rinto, akhirnya Liana tahu bahwa laki-laki itu adalah Dimas, sepupu Rinto. Dimas adalah laki-laki dewasa berusia 31 tahun, tinggal di Yogyakarta, berprofesi sebagai kopilot suatu maskapai penerbangan. Dan yang paling penting: Dimas masih single.

Lewat Rinto, Liana akhirnya berkenalan dengan Dimas. Sosok Dimas yang menarik, sikap ramah serta kemandiriannya membuat Liana mulai jatuh cinta. Dan beruntungnya, Dimas pun seperti memiliki ketertarikan yang sama terhadap Liana.

Namun, perjalanan cinta Liana tidak semudah itu. Ada Rinto yang membuat hatinya terganjal. Sahabatnya sejak kecil itu seolah keberatan dengan kedekatan Liana dan Dimas. Apa yang sebenarnya terjadi antara Liana, Dimas, dan Rinto?

"Jangan berubah terlalu banyak demi seseorang. Kalau orang itu tulus cinta sama lu, dia akan menerima lu apa adanya, bukan menerima lu setelah berubah." (hal. 173)

***

"Aku bukan wanita tamak yang bahagia diperebutkan dengan saling pukul." (hal. 236)

Novel ini menceritakan tentang Liana, penulis berusia 29 tahun yang belum juga menemukan belahan jiwanya. Dia terlalu mudah untuk jatuh cinta. Jika sesorang punya 1 dari sekian butir kriteria idamannya, maka ia dengan mudahnya menyatakan diri sudah jatuh cinta pada orang tersebut. Hasilnya, hubungannya selalu kandas di tengah jalan.

Tema yang cukup familier sebenarnya, tentang perempuan uang usianya sudah matang, tapi masih belum berumah tangga. Namun selain tentang perempuan matang yang belum punya pasangan, novel ini juga menyisipkan bumbu "prenjon". Duuhhhh 😅😅😅 Sepertinya prenjon memang tidak kenal usia.

Meskipun ide utamanya cukup mainstream, tapi tetap tidak membosankan. Banyak adegan yang membuat greget juga, di antaranya yang paling kaget itu pas Liana pagi-pagi gedor pintu apartemen Rinto. Yang terjadi setelahnya bikin melongo dan ngakak. 😁😁 Bahasanya yang rapi membuat kisahnya mengalir, nyaman buat dibaca. 

Ceritanya menggunakan alur maju, dan diceritakan dari sudut pandang orang ketiga. Sebenarnya aku merasa alurnya cukup lambat. Tapi karena banyaknya adegan menggemaskan tadi membuatku tidak merasa bosan.

Tokoh-tokohnya bikin kasihan sebenarnya. Liana terlalu mudah jatuh cinta sampai harus terluka berkali-kali. Dimas juga telah disakiti, tapi saat dia berusaha buat tidak menyakiti, jalannya malah terhadang. Dan Rinto? Duh, dia seperti tempat bersandar yang tanpa sinyal. 'Radar pencari pasangan' milik Liana tidak bisa mendeteksi Rinto sebagai sosok yang bisa jadi kandidat pasangan hidupnya. 

Karakter Liana dan Rinto ini gemes-gemes-ngeselin sebenarnya. Usia mereka sudah dewasa, tapi untuk urusan cinta kadang bersikap childish. Kalau Dimas, ah, pokoknya dia ini salah satu contoh laki-laki yang suami-able. 

Setelah baca novel ini, kalian akan paham bahwa mencari pasangan hidup tidak bisa hanya mengandalkan debar jantung. Ada bergitu banyak hal yang harus dipertimbangkan. 

Kalau kalian penikmat novel romance yang ringan dan menggemaskan, Forever with You ini bisa jadi pilihan. Jadi, selamat berburu di toko buku kesayangan kalian, ya. 😊😊




Read More >>>
 

My Booklicious Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea