Tampilkan postingan dengan label Elex Media Komputindo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elex Media Komputindo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juli 2018

[REVIEW] Midnight Prince - Titi Sanaria

Diposting oleh My Booklicious di 07.49 0 komentar

Judul: Midnight Prince
Penulis: Titi Sanaria
Penyunting: Dion Rahman
Penyelaras Aksara: Inggrid Sonya
Desain Sampul: Ulayya Nasution
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2018
ISBN: 978-602-04-5783-3

BLURB

“Menurutku, kamu menyukaiku.” “Menurutku, kamu terlalu percaya diri.” “Aku mengenalmu, Ka. Sebelum sesuatu yang aku nggak tahu itu apa, kamu nyaman denganku.”

Mika sadar, sudah saatnya dia meninggalkan masa-masa terpuruk dalam hidupnya. Menjalani kehidupan normal selaiknya seorang perempuan dewasa yang bahagia, seperti kata sahabatnya. Menemukan seseorang yang tepat, menjalani hubungan yang serius, kemudian menikah. Lalu Mika bertemu Rajata.

Semua nyaris sempurna seperti harapan semua orang untuknya, sebelum sebuah kenyataan menyakitkan menghantamnya telak. Membuatnya perlahan-lahan menghindari laki-laki itu, mengubah haluan menjadi seorang pesimis yang tak percaya pada kekuatan cinta. Dia berusaha mematikan perasaannya tanpa tahu kalau Rajata justru mati-matian memperjuangkannya.

Jika dua orang yang sudah tak sejalan bertahan di atas kapal yang nyaris karam, akankah mereka bertahan bersama, atau mencari kapal lain untuk menyelamatkan diri masing-masing?

***

"Terkadang, saat kita berpikir bahwa keadaan tidak mungkin bisa lebih buruk lagi, kenyataan lalu datang menghantam dengan keras, hanya untuk menguji batas kemampuan kita menerima." (hal. 21)

Mika merupakan sosok yang cukup tegar. Dia, yang awalnya hidup berkecukupan, mampu bertahan setelah keluarganya diterpa kenyataan pahit yang datang beruntun. Dia menyelesaikan kuliah kedokteran dengan susah payah, hingga bisa menjadi seperti sekarang: bekerja di klinik dan rumah sakit.

Jadwal Mika cukup padat. Dan demi ketenangan hatinya, Mika memilih sif malam di rumah sakit. Itu sebabnya, atap Lukito Medika sudah seperti kamar pribadinya. Saat IGD sepi pasien, Mika akan menghabiskan dini harinya di sana.

Namun, Mika harus merelakan waktu menyendirinya terganggu. Semua karena Rajata. Laki-laki berwajah tampan yang terlihat seperti duta merek pakaian dan jam tangan terkenal, yang dia temui di atap rumah sakit.

Mika yang awalnya menganggap lelaki itu hanya orang iseng pun mulai luluh dengan kegigihan Rajata. Lelaki itu selalu bisa menurunkan egonya, dan menanggapi sarkasme Mika dengan tawa yang menyenangkan.

"Saat menghindar tak lagi bisa menyelamatkan, mungkin sudah saatnya berbalik dan menghadapi kenyataan. Orang tidak mungkin berlari selamanya. Rasanya terlalu melelahkan." (hal. 73)

Sayangnya, pertemanan menyenangkan dengan Rajata menjadi renggang setelah Mika tau siapa lelaki itu sebenarnya. Mika kembali menghindar, Rajata terus mengejar, memperjuangkan perasaannya. Pada akhirnya, Mika mengeluarkan kebohongan dan jurus sarkasnya untuk membuat Rajata menjauh.

Namun, ini enggak cuma tentang Mika-Rajata, tetapi juga tentang Mika-Kinan--dua orang yang sudah bersahabat hampir sepanjang hidupnya. Persahabatan mereka juga terguncang karena Mika yang enggak mau berterus terang. Rahasia yang disimpan Mika demi kebaikan Kinan, kini jadi bumerang.

"Tidak ada yang bisa membentangkan jarak lebih cepat daripada rahasia." (hal. 87)

***

"Memaafkan bukan untuk membebaskan orang lain dari rasa bersalah, tetapi untuk memberi diri sendiri kelegaan." (hal. 247)

Midnight Prince menjadi karya kedua Kak Titi yang kubaca setelah sebelumnya baca DOMB, dan lagi-lagi, kesanku saat membacanya adalah 'menyenangkan'.

Penyampaian konfliknya enggak melebar kemana-mana. Dengan gaya berceritanya yang enak dan mengalir, suasana sendunya jadi kental banget dan ternyata itu enggak bikin semangat baca jadi drop. Yang ada, bawaannya justru pengin cepat menamatkan.

Karakternya hidup dan pukpuk-able. Kalau ada tim yang greget sama Mika, aku jadi anggotanya. Mungkin karena karakternya memang kuat dan dipertahankan dari awal sampai akhir cerita, jadinya gregetku juga enggak abis-abis. Selain Mika, tokoh lain juga punya karakter yang kuat. Ada Rajata dengan segala kegigihannya, Adnan Si Berondong potensial, dan tentunya Kinan. Rasanya dialog tokoh-tokoh itu nempel banget di kepala.

Ceritanya disampaikan menggunakan PoV 1 dari Mika. Enggak heran kalau greget sama dia karena pembaca akan tau banget gimana isi kepalanya. Selain itu, setting-nya juga oke. Hal-hal yang berkaitan dengan kedokterannya pun bukan cuma tempelan. Ketje banget.

Kisah Mika ini juga punya plot yang sederhana. Masa lalu Mika yang jadi poin penting udah disebutkan sejak awal. Jadi, ini memang bukan tipe bacaan yang menyajikan kejutan mencengangkan. Pembaca tinggal menikmati penyelesaian konfliknya aja.

Pesan tentang bagaimana memaafkan dan berdamai dengan masa lalu di dalamnya begitu mengena. Pokoknya, ini bacaan sendu yang enggak bikin malas baca. Aku malah punya bagian favorit, pas Robby ngobrol sama Mika. Nyesek banget...

Recommended buat kalian yang sedang cari bacaan romance tapi enggak bikin diabetes. ^^


Read More >>>

Selasa, 03 Juli 2018

[REVIEW] Another Heart - Mala Shantii

Diposting oleh My Booklicious di 06.35 0 komentar

Judul: Another Heart
Penulis: Mala Shantii
Editor: M.L Anindya Larasati
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2018
ISBN: 978-602-04-5517-4

BLURB

Elle tak mau membiarkan hatinya terbuka pada laki-laki mana pun. Dia tahu cinta hanyalah omong kosong yang membuat perempuan menjadi lemah. Maka Elle tak ambil pusing saat menjalin hubungan yang rumit dengan Raffi. Buatnya, cinta hanya untuk sementara. Untuknya, hidup sepahit kopi hitam tanpa gula.

Raffi tak habis pikir mengapa Elle begitu keras hati. Dia telah menunggu Elle sekian lama dan belum juga melihat titik terang. Raffi pun bingung: apakah Elle memang pantas untuk dikejar dan dipertahankan?

Kehadiran sosok lain yang membuat masa lalu Elle terasa pahit, membuat hati Elle semakin membatu.

Akankah Elle bertahan dengan hatinya, atau membiarkannya mendapat hati yang baru?

***

"Patah hati memang tak selalu tentang ditinggalkan." (hal. 15)

Gracelle Ariadna atau Elle adalah seorang lulusan sekolah kuliner di Sydney yang melanjutkan karier sebagai pastry chef hingga kemudian dia ditawari untuk menjadi bintang iklan. Dari sanalah profesi Elle bergeser menjadi selebritas yang cukup dikenal.

Elle sangat keras kepala dan hatinya tidak mudah luluh. Luka masa lalu telah membuatnya jadi seperti itu. Maka, meski kisah masa remaja membuat Elle dekat dengan Raffi dan lelaki itu terang-terangan mengakui perasaannya pada Elle, Elle tetap bersikap tak mau tahu. Kedekatan mereka tak berstatus. Baginya, perasaan Raffi adalah urusan lelaki itu sendiri, bukan urusannya.

Mungkin hubungan tanpa status antara keduanya akan baik-baik saja, andai Raffi belum memiliki pasangan. Masalahnya, Raffi akan segera bertunangan dengan Naura, meski ia tidak ingin. Sedangkan Naura, dia bukan orang sembarangan. Perempuan itu bisa melakukan apa pun untuk memenuhi keinginannya.

Di sisi lain, Elle juga mendapat pernyataan cinta dari orang lain, sedangkan hubungannya dengan Raffi malah memburuk. Keadaan semakin tidak terkendali saat sesuatu terjadi pada Elle.

Saat jalan untuk menyembuhkan hati terbuka, apa Elle akan mempertahankan sikap keras kepalanya dengan risiko akan kehilangan sosok yang paling berarti?

"Kamulah yang bisa menyembuhkan dirimu sendiri." (hal. 149)

***

"Beberapa orang memang butuh proses yang lebih panjang daripada orang lain." (hal. 278)

Kisah bertema luka lama seperti ini memang sangat umum. Namun, aku mengakui bahwa kisah Elle di sini mampu memberikan kesan berbeda.

Penokohan Elle ini cukup kuat. Dia yang keras kepala dan tak ingin terlihat lemah tergambar jelas dari dialog tiap adegannya. Selain itu, karakter Elle juga menjadi unik karena ada saat-saat di mana sifat percaya dirinya malah membuatnya menjadi seperti tokoh antagonis.

Namun, karakter yang mendalam bukan hanya milik Elle. Raffi pun demikian. Lelaki itu memiliki warak yang lebih penyabar, tapi tetap manusiawi saat sampai di titik jenuh. Lalu ada Naura dan Alma, duo mak lampir kalau menurutku mah. Alma mending sih. Nah, kalau Naura, ughh... kesan antagonisnya ngena banget.

Dari segi alur, cerita ini disampaikan dengan maju-mundur. Pembaca akan menemukan keping-keping flashback yang dapat membantu menggambarkan kisah Elle dari awal. Gaya bahasanya beragam, dengan kalimat-kalimat yang terkesan tenang tapi menghanyutkan. Makanya, enggak heran kalau bacanya juga butuh suasana yang tenang agar ceritanya lebih mudah diresapi.

Secara keseluruhan, baca ini sama memuaskannya dengan baca Unforgettable Chemistry. Tokoh perempuannya pun sama-sama bikin greget, sama-sama membekas di ingatan. Btw, novel ini ngajak sesenduan bareng, ya. Jadi, siap-siap baper aja.



Read More >>>

Sabtu, 05 Mei 2018

[REVIEW] After That Night - Christina Tirta

Diposting oleh My Booklicious di 08.55 0 komentar

Judul: After That Night
Penulis: Christina Tirta
Editor: Afrianty P. Pardede & Andriyani Loa
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2017
ISBN: 978-602-02-0053-2

BLURB

Eric Pieters: Lajang, pemilik kafe, tampan, menawan.
Elle Rashita: Telah bertunangan, guru sekolah dasar, manis, sederhana.

Mereka selalu bertemu tanpa disengaja.
Elle, wanita yang ditemukan Eric dalam keadaan mabuk dan meracau di kafe miliknya, ternyata wali kelas Devon, keponakannnya. Pengkhianatan yang dirasakan Elle membuatnya terlihat sangat menyedihkan saat itu.

Tapi, penampilan yang sekarang sangat bertolak belakang. Rasa penasaran dan sikap agresif Eric membuat Elle begitu waswas sekaligus bersemangat.
Eric seolah datang membawa harapan dan keberanian. Elle ingin berjuang atas nama cinta dan kesetiaan. Selalu ada kesempatan kedua. Tapi, kali ini, haruskan Elle mengikuti kata hatinya dan melepaskan segala rasa takutnya?

***

"There's no excuse for a cheater. Dalam berkomitmen, kamu hanya punya dua pilihan. Be loyal or leave it." (hal. 73)

Eric sudah tertarik pada Elle sejak perempuan itu mabuk di kafe miliknya. Malam itu, Eric membawa Elle yang tengah sendiri ke private room, kemudian mendengar sendiri perempuan itu meracau tentang tunangan, selingkuh, dan kesetiaan.

Eric yang awalnya kehilangan jejak, kembali bertemu dengan Elle saat mendatangi sekolah Devon, keponakannya. Sejak saat itu, Eric mulai membuat berbagai alasan untuk dapat mendekati Elle. Perasaannya tidak goyah meski tahu Elle telah memiliki tunangan.

Semakin dekat, Eric semakin paham tentang bagaimana hubungan Elle dengan tunangan dan calon mertuanya. Pengalaman di masa lalu membuat Eric bertekad untuk membantu melepaskan Elle dari hubungan yang timpang itu.

Akankah Elle menerima uluran tangan Eric dan membuang semua ketakutannya?

***

"Jangan benci dan takut pada konfrontasi, Elle. Jangan mengubur mereka dalam-dalam. Mereka akan menggali jalannya keluar dan menyebar menjadi sesuatu yang mengerikan." (hal. 185-186)

Sejak nyimak blogtour-nya tahun lalu, aku udah penasaran sama novel ini. Ternyata, ceritanya emang seru.

After That Night ini memiliki konflik yang luas. Selain tentang Elle-Eric dan kesetiaan, ada juga tentang keluarga. Bahkan aku merasa aspek psikis tokohnya juga berpengaruh cukup kuat. Beruntungnya, penyelesaian konflik cerita di sini cukup jelas dan enggak terburu-buru.

Seperti judulnya, kisahnya diawali oleh satu malam. Ceritanya dituturkan dengan sudut pandang ketiga terbatas menggunakan alur maju. Meskipun begitu, ATN ini enggak monoton karena tetap ada kilas balik yang disisipkan. Penyampaian ceritanya juga digambarkan dengan setting yang rapi dan enggak membingungkan.

Karakternya pun ngena banget. Elle yang ramah dan cenderung polos, Eric yang bisa kalem tapi kadang jahil, Manda dan Erin yang jiwanya lebih bebas, juga Brian dan mamanya alias Si Nenek Sihir. Pokoknya Brian dan Si Nenek Sihir memang calon mantu dan mertua yang mengerikan.

Dibanding saat baca Dangerous Games, baca ini jauh lebih enak. Mungkin karena dalam DG ada unsur thriller-nya, jadi bawaannya gelap gitu. Nah, kalau baca ATN ini bisa lebih enjoy, lancar jaya sampai tau-tau udah tamat aja.

Btw, entah sengaja ditulis atau enggak, aku menemukan banyak banget kata 'tafakur' di sini. Hampir setiap penggambaran tokoh yang berpikir atau merenung predikatnya pakai kata 'tafakur'. Jadinya agak gimana gitu. Mungkin kalau mau pakai kata yang enggak umum enggak harus di semua scene juga kali, ya. Cukup 1-3 buat nambah pembendaharaan kata. :D

Baca juga karya lain Christina Tirta: Love is The End

Pokoknya, kalau dari segi cerita, ATN ini asyik deh. Kalian suka bacaan romance yang kental membahas kesetiaan, komitmen, dan hubungan masa depan? Novel ini tentu bisa jadi pilihan.



Read More >>>

Jumat, 04 Mei 2018

[REVIEW] Starry Night - Larasaty Laras

Diposting oleh My Booklicious di 20.17 0 komentar

Judul: Starry Night
Penulis: Larasaty Laras
Editor: M.L Anindya Larasati
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-602-02-9809-2

BLURB

Dru, the most wanted bachelor tapi jomblo–itu kata teman-teman satu band Dru. Lebih menyukai suasana sepi dan menikmatinya.

Janina, penyiar cantik yang punya mimpi begitu indah dan suka menyanyi. Lebih menyukai keramaian lalu mengamatinya dalam diam. 

Setelah bertemu dua kali secara random dengan Janina–seorang penyiar radio yang wajah dan suaranya menawan hati, Dru yakin dia jatuh cinta pada wanita itu. Jalan Dru untuk memenangkan hati Janina tidaklah mudah: kenangan masa lalu Janina yang terus membayangi, belum lagi bapak Janina yang dingin dan tidak bersahabat. Akankah Dru mampu merebut hati Janina? Mampukah Janina melupakan kenangannya, dan meyakinkan hatinya bahwa dia juga menyukai Dru?

***

Kisah ini berawal dari siaran Starry Night, sebuah program radio yang khusus memperdengarkan lagu dari penyanyi-penyanyi indie. Janina, sang penyiar, sudah mengenal Dru lewat Kanya, tapi perempuan itu baru tahu kalau Dru juga merupakan vokalis band indie yang menjadi guest pada siaran perayaan 100 hari Starry Night mengudara.

Sebaliknya, Dru yang sudah mengetahui sosok Janina langsung terkesan setelah mendengar perempuan itu bernyanyi pada live acoustic Starry Night. Saat band-nya diundang menjadi guest, Dru menyanyikan lagu spesial, tapi ternyata malah membuat Janina tersentuh hingga menangis.

Lewat pertemuan demi pertemuan, ketertarikan Dru pada Janina semakin menguat, bahkan meski ia telah mengetahui kisah masa lalu Janina. Perlahan tapi pasti, Janina pun menerima segala perhatian Dru. Didukung oleh sang adik, serta keluarga besarnya, Dru ingin menjadikan Janina sebagai pendamping.

Namun, lagi-lagi keluarga jadi ganjalannya. Janina dilanda dilema. Antara cinta, mimpi, atau keluarga, manakah yang akan dipilih Janina?

***

"Bahagia terkadang bersanding dengan sedih." (hal. 227)

Membaca kisah Janina mengingatkanku pada keinginan semasa SMP: menjadi penyiar radio. Membaca dialog pembuka saat Janina siaran atau mention-mention yang dari pembaca seperti sebuah nostalgia pada masa-masa menjadi pendengar radio.

Konflik Starry Night sendiri berpusat pada kisah perjuangan Janina. Tentang bagaimana dia menjalani hidup di keluarga yang enggak demokratis hingga harus merelakan mimpinya, kesedihannya setelah kepergian Panji, serta kehadiran sosok Dru yang menawarkan kisah baru.

Kisah Dru-Janina sendiri cenderung bergerak dengan cepat, tanpa banyak basa-basi. Jadi enggak banyak kalimat menye atau menggelikan. Namun, meskipun kisah roman Janina-Dru ini menarik, aku tetap merasa unsur keluarga Janina-lah yang meninggalkan kesan paling kuat. Bagian Janina ditinggal Panji pun bikin kisahnya jadi makin 'baperin'.

Selanjutnya, ada bagian cerita yang menyulitkanku masuk lebih dalam, yaitu tentang musik indie. Karena pengetahuanku nol besar dan selera musikku juga payah, info tentang lagu dan band indie cuma nempel sekilas, lirik-lirik yang dimunculkan pun jadi cuma kubaca seperi larik puisi. Acungan jempolnya, setelah tahu, ternyata lirik-lirik itu lebih puitis, lebih menyentuh. Mungkin yang suka lagu-lagu indie lebih paham, ya.

Untuk alurnya sendiri, cerita ini menggunakan alur maju-mundur dengan penceritaannya yang mengalir rapi. Dibawakan dengan sudut pandang orang ketiga, novel ini tidak hanya memfokuskan pada Janina-Dru. Di dalamnya bahkan menghadirkan banyak sekali tokoh pendukung.

Sebut saja, ada Nandia, rekan kerja Janina. Ada juga Kanya Si Ceriwis yang merupakan adik Dru, serta Miku dan Ryan, rekan Dru. Bahkan para sepupu Dru banyak dimunculkan. Meskipun memang jadi harus hapal banyak tokoh, tapi kehadiran para sepupu itu pun membantu menguatkan bagian konflik tentang perbedaan kondisi keluarga Dru dan Janina.

Over all, aku tersentuh dengan konflik keluarganya. Kalau suka kisah dengan unsur keluarga yang kental plus ada kepingan tentang musik indie, kalian bisa kenalan Janina dan dapatin info tentang lagu-lagu indie lewat novel ini.



Read More >>>

Kamis, 22 Maret 2018

[REVIEW] Asmarandana - Indah Hanaco

Diposting oleh My Booklicious di 07.30 0 komentar

Judul: Asmarandana
Penulis: Indah Hanaco
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2017
ISBN: 978-602-04-5213-5

BLURB

Levi Abirama remaja begitu bahagia karena bisa bersama Jessica yang membuatnya tergila-gila. Cintanya pada perempuan itu begitu bergelora meski usia mereka terpaut jauh. Sepuluh tahun kemudian, Levi hanya bisa termangu karena cinta itu jua yang mengantarnya menjadi “sandera” Jessica.

Lewat sebuah perjalanan, Levi malah tak sengaja mengenal Elana Josefin. Gadis muda yang penuh semangat itu bekerja di sebuah resor di tepi Danau Toba. Pertemuan pertama mereka sudah memberi efek magis yang mengubah dunia Levi dan Elana. Hingga lelaki itu lupa, bahwa dia dan Jessica terikat hubungan terlarang yang takkan mudah diurai.

Meski sempat gamang, Levi akhirnya berani mengambil keputusan mengejutkan. Namun sayangnya Jessica tak mau begitu saja melepaskan gigolonya. Melengkapi semua keruwetan itu, Elana sendiri punya rahasia pahit yang takkan pernah ada penawarnya. Apakah semua harus berakhir dengan hati yang luluh lantak?

***

"Berhadapan pada kebenaran, bukan sesuatu yang siap untuk dihadapi oleh semua orang." (hal. 16)

Satu dekade sudah Levi menjadi 'sandera' Jessica. Sekarang, Levi bukan lagi remaja naif yang rela melakukan segalanya atas nama cinya. Levi sadar bahwa dia menginginkan masa depan, dan sayangnya Jessica tidak tertarik untuk itu.

Di tengah kebimbangannya, Levi mengenal sosok Elana. Perasaan hangat dan jantung yang berdebar kencang kembali dirasakannya setelah sekian lama. Levi mengenali perasaan itu. Namun lagi-lagi keadaan membuatnya sulit mengambil keputusan.

Levi ingin lepas dari Jessica, tentu saja. Sayangnya dia juga cukup sadar untuk tidak terlalu berharap pada Elana. Masa lalunya terlalu kelam. Tidak semua orang bisa menerima mantan gigolo, kan?

Di sisi lain, Elana sendiri punya masalah cukup pelik sampai-sampai dia merasa enggak pantas untuk Levi.

Bagaimana kisah ketiganya berlanjut? Akankah Levi berhasil melepaskan diri dari Jessica dan memperjuangkan cintanya untuk Elana?

***

"Hidup kadang sulit untuk diramal, berjalan begitu saja. Pas kita tersadar, sudah terlalu banyak hal-hal di luar kehendak yang telanjur terjadi." (hal. 75)

Sebelum baca novel ini, aku sempat cek 'asmarandana' di KBBI *karena sebelumnya aku cuma tau kata itu sebagai salah satu pupuh. Dari pengertiannya, yang aku garis bawahi adalah asmarandana ini mengungkapkan rasa sedih dan prihatin. Benar aja, baca novel ini bener-bener bikin aku sedih, prihatin pada Levi dan Elana.

Mengusung tema kehidupan gigolo, ini salah satu novel Kak Indah yang bikin ikut merasa miris banget. Alur campuran serta susunan kalimatnya yang sederhana, rapi, tapi tetap indah berhasil membuat emosiku naik-turun.

Hasil olah karakter tokohnya cukup membekas. Levi yang pria berusia matang dengan fisik dan wajah menawan memiliki sifat cukup tertutup dan terbiasa mengalah untuk menghindari konflik.

Jessica, 'perayu' andal dan tidak akan membiarkan orang lain menentang keinginannya. Karakter bossy-nya benar-benar hidup. Lalu, ada Elana, gadis berparas cantik dengan fisik khas lokalnya. Dia ramah dan mudah berbaur. Semua tokohnya enggak timpang, dan justru saling melengkapi.

Konfliknya berkaitan satu sama lain, tentang kebimbangan hati Levi dan upaya dia untuk melepaskan diri dari 'hubungan tanpa masa depan'-nya dengan Jessica, tentang perasaan Levi yang tumbuh untuk Elana, serta Elana sendiri yang punya masalah pelik. Semuanya bikin greget, dan untungnya diselesaikan dengan baik.

Setting-nya juga oke banget. Susunan kalimatnya berhasil menggambarkan dengan baik suasana yang dialami tokoh.

"Pegunungan yang memagari danau itu sedang dicumbui kabut." (hal. 6)

Kutipan itu adalah salah satu satu kalimat yang kusuka. Bacanya aja udah bikin adem.

Lalu, bagian paling menariknya adalah tentang Bukit Toba Resort. Detilnya bikin aku berkali-kali menatap cover. Deskripsi infinity pool yang sisinya mengikuti garis tebing dan memungkinkan untuk langsung menatap Danau Toba, semuanya bikin speechless.

Penggambaran suasana resor di perbukitan Danau Toba ini bisa banget dipakai promosi. Apalagi yang dibahas enggak cuma tempat, tapi juga kulinernya. Kalau tentang nyisipin unsur wisata, Kak Indah ini memang udah ahli, ya.

Plusnya lagi, bagian resor ini juga enggak sekadar nempel di cerita. Banyak bagian penting yang melibatkan tempat itu. Perpaduan setting ciamik dan adegan penting bikin ceritanya nempel banget di kepala.

Terakhir, sebagai poin nilai cerita, aku pernah baca postingan Kak Indah tentang berlaku bijak. Membaca novel ini pun begitu. Kita enggak bisa menghakimi, karena kita sendiri enggak bisa menjamin bahwa kita mampu mengambil keputusan bijak saat berada di posisi yang sama dengan tokoh-tokoh novel ini.

Satu lagi novel Kak Indah Hanaco yang recomended banget untuk kalian koleksi. So, selamat berburu kisah Levi di TB kesayangan kalian, ya.



Read More >>>

Kamis, 01 Maret 2018

[REVIEW] Side by Side - Sofi Meloni

Diposting oleh My Booklicious di 11.02 0 komentar

Judul: Side By Side
Penulis: Sofi Meloni
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2017
ISBN: 978-602-04-2159-9

BLURB
"Tapi apa sebenarnya yang harus kamu lakukan untuk memenangkan taruhannya?"
"Gampang. Kita hanya harus berpacaran."
Bagi Rama, masa kuliah adalah masa-masa penuh kebebasan dan waktu untuk bermain-main sepuasnya. Sementara bagi Gita justru kebalikannya. Bangku kuliah adalah masa penuh perjuangan untuk mencapai kebebasan menentukan tujuan hidup setelah lulus nanti. 

Rama dan Gita dipertemukan oleh taruhan konyol. Keduanya tidak sadar bahwa saat memutuskan untuk bekerja sama, perasaan mereka secara perlahan berkembang tanpa bisa dikendalikan. 

Gita berusaha membuat Rama mengerti pentingnya untuk berusaha keras dan merencanakan hidup sebaik-baiknya. Sementara Rama tanpa henti berusaha membuat Gita mengerti cara terbaik untuk bersenang-senang. 

Mampukah Rama dan Gita, dengan watak yang bertolak belakang, bersisian dalam menjalani hidup di bangku kuliah dan memahami arti dari jatuh cinta yang sesungguhnya?

***

Taruhan membawa Rama untuk berkenalan dengan Gita, seorang mahasiswi yang tekun namun terkesan angkuh dan tidak memedulikan hal-hal yang dianggap tidak penting. Demi keuntungan bersama, keduanya menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih.

Namun, kebersamaan yang terjalin perlahan menampakkan hal-hal yang disimpan masing-masing Rama dan Gita. Rama mulai tahu tentang masalah Gita dengan Luna, Gita pun mulai paham tentang hubungan Rama dan Jess.

Ketika segalanya telah terbuka, di antara berbagai masalah tentang keluarga dan cita-cita, akankah mereka mampu mempertahankan perasaan yang tumbuh semakin kuat?

***

"Kamu, kehadiranmu, tidak pernah ada dalam rencanaku. Sama halnya aku tidak pernah merencanakan untuk jatuh cinta dan patah hati karenamu." (Gita, hal. 251)

Nah, saatnya share kesanku setelah baca kisah Rama-Gita.

Pertama, aku suka setting kampusnya. Ngena banget. Detail tempat, suasana, kegiatan yang ada, semua diceritakan dengan rapi. Setting-nya enggak sia-sia, dan malah mampu memperdalam kesan mahasiswa pada tokohnya.

Konfliknya terbilang mainstream, tapi tetap menarik. Permasalahannya enggak cuma berpusat pada hubungan Rama-Gita, tapi juga mencakup keluarga, serta kondisi pribadi dan sosial. Alurnya sendiri bisa dikatakan lambat untuk bagian-bagian awal. Namun, aku makin semangat saat titik-titik penyelesaian akhir mulai terbaca. 

Lalu, penokohannya juga cukup matang. Tujuannya jelas, konfliknya juga. Karakternya benar-benar hidup. Mereka ini yang bikin kisah romantis jadi lebih wajar dan enggak menggelikan. Hanya saja, ada bagian yang menurutku kurang diselesaikan dengan baik, yaitu tentang Rama dan mamanya. Selain dari itu, semuanya udah oke.

Selanjutnya, aku suka penggunaan sudut pandangnya; orang ketiga terbatas, cuma dua yang diambil yaitu Gita dan Rama. Itu bikin ceritanya jadi kerasa lebih fokus. Penceritaannya sederhana, bahasanya juga rapi.

Kalau mengharapkan cerita yang isinya cuma pacaran terus, mungkin bakal kecewa, karena novel ini enggak se'biasa' itu. Kisahnya lebih dekat dengan kehidupan nyata mahasiswa, bahwa kalaupun pacaran, tugas sebagai mahasiswa enggak ngilang gitu aja. Tetap ada target dan cita-cita yang pengin dicapai. Thumbs up deh.

Novel kedua dari Kak Sofi yang kubaca, dan lagi-lagi aku suka. Sepertinya, novel-novel Kak Sofi ini emang bikin tergoda untuk mengoleksi, ya.

So, selamat berburu karya Kak Sofi yang satu ini di TB kesayangan kalian.



Read More >>>

Kamis, 11 Januari 2018

[REVIEW] Teratai - Yayan D.

Diposting oleh My Booklicious di 16.25 0 komentar

Judul: Teratai
Penulis: Yayan D.
Editor: M. L. Anindya Larasati
Layout: Endah Dwi S.
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2017
ISBN: 978-602-1181-1

BLURB

Cinta pertama begitu memabukkan. Juga menyakitkan.

Drew sadar betul itu karmanya karena telah mempermainkan hati Si Cantik. Dia benar-benar jatuh cinta pada Melody. Tapi terkadang, egonya sebagai pria mengalahkan cinta itu. Sekarang dia kehilangan gadis itu.

Melody, Si Cantik yang angkuh itu berubah rapuh. Ia sendirian, dan terperangkap dengan tanggung jawab. Melody merasa hanya Drew alasannya bertahan. Ia mengibaratkan dirinya seperti teratai: cantik, namun kedinginan dengan akar mencengkeram di kolam berlumpur. Dia merasa tak pantas untuk pria itu, dan benar saja: dia kehilangan Drew.

Keduanya berlari, mengingkari hati. Tapi akankah mereka bertemu lagi, sejauh apapun mereka berlari dan membelokkan takdir?

***

"Memang salah kalau orang jatuh cinta? Memang kita bisa memilih kepada siapa dan kapan kita jatuh cinta?" (hal. 36)

Bagian awal ini bercerita tentang sama SMA Drew dan Melody. Kisah remaja yang khas, tentang persahabatan, juga persaingan yang melibatkan prestasi dan asmara. Di sini, karakter Drew dan Melody begitu menonjol dengan sebutan Si Bengal dan Si Cantik.

Melody menyukai Rama, dan karena Rama selalu dianggap saingan oleh Drew, maka pum tertantang untuk menaklukkan Melody. Dengan cara yang licik dan jahilnya, Drew berhasil mendapatkan Melody. Awalnya memang terpaksa, tapi seiring berjalannya waktu, Melody semakin nyaman dengan kebersamaan mereka.

Namun, saat Si Bengal itu telah lulus dan tinggal di Aussie untuk kuliah, sesuatu yang buruk menimpa keluarga Melody. Si Cantik pun kini bukan lagi perempuan yang bisa mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Meski sulit, Melody mulai terbiasa dengan keadaannya yang jauh dari kata kaya.

Saat akhirnya Drew pulang, dia melakukan kebodohan besar. Kekecewaan membuatnya bertindak mengikuti emosi sesaat hingga ia kehilangan Melody.

Perpisahan karena keadaan. Perpisahan yang menyisakan luka di hati Drew dan Melody. Jika kelak mereka bertemu lagi, akankah pertemuan itu sanggup mengobati luka hati dan menyatukan mereka kembali?

***

"Jadi orang kaya itu gampang. Belajar hidup susah, itu yang sulit." (hal. 156)

Novel ini menceritakan tentang 'perpisahan karena keadaan', tentang bagaimana keadaan membuat tokoh-tokohnya mengambil keputusan, yang kadang bijak, tapi juga kadang gegabah karena emosi yang tidak stabil, hingga tercipta suatu perpisahan yang menyakitkan. Aku juga merasa meski intinya tetap tentang perpisahan, ceritanya seperti memiliki dua ruang konflik dengan tokoh yang tetap beririsan.

Penokohannya cukup kuat, apalagi dengan adanya panggilan Si Cantik dan Si Bengal. Karakternya berkembang cukup cepat, khususnya untuk Melody. Terlihat dari dia yang awalnya angkuh dan manja, namun berhasil menjadi perempuan yang tangguh setelah terkena musibah.

Ceritanya disampaikan dengan gaya yang cenderung puitis, membuat suasana sendunya semakin kental. Alur maju-mundurnya juga diceritakan dengan rapi menggunakan sudut padang orang ketiga sehingga bacanya jadi nyaman dan tidak membingungkan.

Secara keseluruhan, kisahnya cukup mengaduk emosi. Ending-nya pun aku suka karena lebih alami dan tidak terkesan seperti dongeng putri.

Hanya saja, jumlah tokohnya di novel ini memang banyak, sehingga harus fokus pas baca. Kalau tidak, nanti malah lupa nama atau peran tokoh itu di cerita.

Nah, kalau butuh kisah 'sesenduan' untuk mengisi waktu luang, kalian bisa coba baca kisah Si Cantik ini, ya.




Read More >>>

Sabtu, 02 September 2017

[REVIEW] After Sunset - Indah Hanaco

Diposting oleh My Booklicious di 23.34 0 komentar

Judul: After Sunset
Penulis: Indah Hanaco
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-02-3791-6

BLURB

Awalnya...
Leah Kannitha: Dia adalah si megalomania sinting yang otaknya kena virus mematikan. Makanya dia perlu membenturkan kepala supaya bisa berpikir jernih.
Liam Hammond: Dia gadis ceroboh yang suka ikut campur urusan orang. Dia kira aku gampang terpesona dengan wajah polos dan mata besarnya?

Akhirnya...
Leah Kannitha: Aku takut ada pembuluh darahku yang pecah karena dia memegang tanganku sambil mengucapkan kata-kata cinta.
Liam Hammond: Ah, kondisiku sama sekali tidak menggembirakan. Aku sedang berusaha keras untuk berhenti menyukainya, karena aku lebih suka mencintainya.

Keduanya punya rahasia. Keduanya punya masa lalu yang menyakitkan. Tapi cinta membuat mereka harus mampu melampaui semua rasa sakit dan kegetiran yang mengadang tanpa perasaan.

Apakah mereka mampu menanggalkan masa lalu?
Mungkinkah masa depan untuk mereka memang ada?
Biarkan cinta melewati ujiannya dan memberikan jawaban.

***

"Sampai kapan kamu mau bertingkah mirip seorang ibu?" (Zsa Zsa, hal. 33)

Leah berubah drastis sejak kepergian mama dan kakaknya. Bukannya seperti gadis 20 tahun, Leah malah seperti seorang ibu-ibu. Papanya, meskipun sibuk bekerja, tapi tetap mengetahui perubahan Leah. Karenanya, papa Leah menyiapkan tiket liburan ke Bali. Leah akhirnya mengikuti keinginan papanya. Leah pergi bersama Emma, sahabatnya, dan Zsa Zsa--sepupu yang menurutnya masih bersikap kekanakan.

Liburan tidak mengubah kenyataan bahwa lubang besar setelah ditinggal sang mama dan kakak membuat Leah merasa kosong dan kerap bermimpi buruk. Bahkan meski telah 7 tahun berlalu, Leah masih sering terbangun tengah malam karena mimpinya itu. Mimpi yang tetap mengusik, termasuk saat malam pertama liburannya di Bali.

Malam itu, karena merasa sulit tidur kembali, Leah memutuskan untuk keluar kamar resor. Duduk di bangku, menghadap laut lepas. Kemudian, di sanalah ia melihat laki-laki itu. Laki-laki yang membenturkan kepalanya ke meja dengan keras. Berkali-kali.

Laki-laki itu seperti sangat kesakitan. Maka, Leah menghampirinya, menanyakan keadaannya. Sayangnya, laki-laki itu malah mengusirnya. Leah pun kaget dan jengkel. Esok harinya, di resor itu pula, Leah oleh Zsa Zsa dikenalkan pada Jen dan teman-temannya yang datang dari Inggris. 

Ternyata, laki-laki yang mengusirnya malam itu adalah salah satu teman Jen. Liam namanya. Laki-laki Inggris bermata abu-abu, mantan pembalap, dan sering menampakkan ekspresi datar.

Leah sudah telanjur kesal dan jengkel pada Liam, dan Liam pun selalu menganggap Leah sebagai orang selalu ingin ikut campur urusan orang lain. Mereka akhirnya seperti melakukan perang dingin. Tanpa banyak debat, tapi tatapan mereka mengandung aura permusuhan.

Namun, di suatu kesempatan, mereka malah saling menceritakan kisah sedih di kehidupan masing-masing. 
Bukankah itu salah satu jalan menuju pintu hati? Kemudian, saat waktu berlibur hampir habis, akankah mereka mengambil kesempatan itu? Kesempatan besar dengan risiko yang sama besarnya.

"Orang yang berbuat kurang ajar harus diajari untuk minta maaf." (Emma, hal. 93)

***

Novel ini menceritakan tentang Leah dan Liam. Leah adalah seorang perempuan berusia hampir 20 tahun, memiliki kepribadian seperti seorang ibu. Tidak hanya dalam sikap, tapi juga dari segi penamilan. Jadoel banget, pokoknya. Kemudian, Liam. Dia adalah laki-laki Inggris bermata abu-abu, seorang mantan pembalap yang selalu memasang ekspresi datar. 

Karakter dua tokoh ini cukup kuat dan memiliki alasan yang logis. Zsa Zsa dan Emma juga memiliki peranan penting dengan karakter yang sama kuatnya. Zsa Zsa yang kekanakan mampu membuat kepala Leah berasap dan membuat suasana di novel ini jadi hidup, lebih ramai.

Dengan setting di Bali dan jangka waktu yang cukup singkat, alurnya jadi terasa cepat. Itu juga mungkin yang membuat karakter tokohnya juga berkembang dengan cepat. Sosok Leah jadi lebih banyak bercanda, dan Liam yang dingin menjadi lebih banyak menebar senyum hangat.

Ceritanya dibawakan dengan beberapa kali pergantian sudut pandang. Bagian awal diceritakan bergantian dari Leah dan Liam. Selanjutnya diambil alih oleh penulis. Namun, mendekati bagian akhir, cerita dibawakan lagi dari Leah dan Liam. Memang harus jeli saat membaca. Karena kalau tidak, pembaca akan bingung siapa yang sedang bercerita. 

Sebenarnya ini bukan pertama kali. Di novel Love Me Again, Kak Indah juga menggunakan POV bergantian seperti ini. Jadi, aku tidak terlalu kaget. Keuntungannya adalah, pembaca jadi tau apa yang sebenernya dirasakan dan dipikirkan si tokoh yang bercerita.

Selain bagian awal yang memang terasa sendu dan cukup menjengkelkan, semakin jauh membaca, aku merasa ceritanya semakin menggemaskan. Jadi, kalau butuh bacaan romance yang cukup ringan, After Sunset ini bisa jadi alternatif kalian.




Read More >>>

Minggu, 13 Agustus 2017

[REVIEW] If You Come Back - Evril

Diposting oleh My Booklicious di 08.21 0 komentar

Judul: If You Come Back
Penulis: Evril
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 9786020295947

BLURB

Enam tahun, Halim Perdana Kusuma selalu percaya bahwa dirinya membenci Mahira, mantan istrinya. Namun, ketika takdir kembali mempertemukan mereka, Halim yakin ada yang salah dengan dirinya. Benci tidak cukup kuat untuk menahan Halim agar tidak mengikuti perempuan itu hingga ke rumahnya—rumah mereka di masa lalu. Jelas itu keputusan yang salah, karena kenekatan itu justru berujung pada pertemuannya dengan Gara, anak laki-lakinya, yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Siapa sangka, kehadiran bocah itu bisa mengubah segalanya. Termasuk membuka rahasia penyebab perpisahan Halim dan Mahira.

***

Halim tidak menyangka bahwa kehidupan rumah tangganya akan kandas di tengah jalan. Ia dan Mahira saling mencintai, tapi entah kenapa Mahira menggugat cerai dirinya dengan alasan yang tidak bisa ia terima. Meski menyesakkan, Halim harus menerima keputusan hakim di pengadilan bahwa ia dan Mahira telah resmi bercerai.

Enam tahun berselang, Halim yakin sudah meletakkan masa lalunya di tempat yang tepat agar hatinya tidak terusik lagi. Tapi melihat Mahira tetap membuatnya penasaran. Dan karena rasa penasaran itu, ia akhirnya melihat Gara, seorang anak berusia 5 tahun yang memanggilnya ayah. Hatinya pun mulai goyah. Apalagi Mahira dengan jelas menyebutkan bahwa Gara adalah putranya, putra mereka.

Halim ingin mengasuh Gara, tapi tentu Mahira akan menahannya. Itu artinya, jika Halim ingin bertemu Gara, ia akan berhadapan dengan Mahira lebih dulu. Hal itu membuat intensitas pertemuan mereka meningkat drastis. 

Kehadiran Gara dan kebersamaan dengan Mahira telah menggoyahkan hatinya. Di tengah kebimbangannya, Halim akhirnya mengetahui rahasia di balik perceraiannya dengan Mahira. Dan saat ia ingin kembali, sosok lain datang mengancam. Namun, kali ini Halim tidak akan menyerah dengan mudah.

"Kalau kamu takut gagal lagi itu wajar, Ra. Tapi kalau nggak kamu lawan rasa takut itu, sampe kapan pun kamu gak akan bisa nerima orang lain masuk ke hati kamu." (hal. 368)

***

Berbeda dengan beberapa seri Le Mariage yang kubaca sebelumnya, novel If You Come Back ini menceritakan kehidupan Halim dan Mahira setelah bercerai. Meskipun begitu, di bagian awal tetap diceritakan kisal awal pernikahan mereka sehingga pembaca tidak terlalu kebingungan.

Untuk bahasa ceritanya sendiri cukup ringan dan nyaman dibaca. Apalagi POV-nya juga dari penulis sendiri sehingga ceritanya gak berat sebelah. Alurnya maju dengan beberapa sentuhan flashback. Memang ada bagian yang mudah ditebak, tapi kelakuan Halim yang kadang jahil cukup menghibur sehingga ceritanya tidak terlalu membosankan. Dan tentunya dengan tambahan bumbu cinta segitiga antara Halim-Mahira-Cakra juga cukup membantu menambah greget pada cerita.

Kenapa bisa greget? Karena karakter tokohnya memang begitu. Mahira kadang gemesin kalau udah marah-marah sama Halim. Tapi Halim ini bikin greget gara-gara hatinya mudah goyah. Ngakunya benci Mahira, dia punya pacar pula, tapi sekalinya Mahira kenapa-napa tetap khawatir. Jadi pendiriannya seperti mudah goyah. Tapi interaksi Halim-Gara juga gemesin banget. Pokoknya kalau Halim, Mahira, dan Gara udah ngumpul, ketiganya jadi seperti keluarga yang banyak bercanda dan bikin rame. 

Hanya saja, yang membuatku aneh adalah bahwa mereka menikah saat masih kelas XII. Sebenarnya bukan gak mungkin, tapi hal itu tetap menimbulkan pertanyaan. Misalnya, "pihak sekolah tau atau enggak kalau mereka sudah menikah? Bagaimana responnya? Memang mereka mengizinkan?". Lalu tentang aturan pernikahan itu sendiri. Setauku, menurut undang-undang tentang pernikahan, usia minimal calon pengantin itu kalau laki-laki 19 tahun dan perempuan 16 tahun. Nah, berapakah usia Halim saat itu? Bisa sih kalau menikah dengan usia di bawah itu, hanya saja harus mengurus perizinan dulu ke pengadilan.

Okelah, daripada jadi melebar kemana-mana. Pokoknya bagian ini menurutku paling mengganjal. Mungkin akan lebih aman dan logis kalau di ceritanya mereka menikah setelah lulus sekolah dan usia mereka sudah dikatakan cukup. Dan mendekati bagian terakhir, ada lagi yang membuat heran lagi, yaitu saat Halim mengikuti lomba panjat pinang. Di sana disebutkan bahwa Gara ingin kulkas yang ada di ujung pohon. Ini asli, aku bingung banget. Kulkasnya digantung di pohon pinang, atau gimana? Masa kulkas yang berat gitu disimpan di ujung pohon?!

Jadi, riset pada beberapa bagiannya perlu diperdalam dan penggunaan kalimatnya harus diperhatikan untuk meminimalkan adanya ambiguitas.

Terakhir, kisah Mahira-Halim ini juga jadi contoh konflik rumah tangga yang masih banyak bertebaran dan bisa dijadikan pelajaran. Apalagi untuk pasangan yang telah memiliki anak. Akan semakin banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan.

Buat kalian pecinta genre romance, jangan lupa lengkapi seri Le Mariage dengan novel If You Come Back ini, ya.




Read More >>>

Minggu, 14 Mei 2017

[REVIEW] Stay with Me Tonight - Sofi Meloni

Diposting oleh My Booklicious di 03.52 0 komentar

Judul: Stay with Me Tonight
Penulis: Sofi Meloni
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-602-02-6646-6

BLURB

Mereka bilang hubungan di atas tempat tidur dan cinta itu dua yang berbeda.
Katanya lagi hubungan intim bisa dilakukan dengan ataupun tanpa cinta.
Dengan cinta? Bullshits...!
Cinta itu hanya ada di cerita dongeng belaka, setidaknya itu yang kupercaya sampai aku bertemu dengannya....

Mungkin pertemuan kita diawali dengan cara yang salah dan mungkin juga pada dasarnya dua orang yang sama-sama terluka tidak seharusnya bersama. 
Pada akhirnya kita harus mengakui kalau kita adalah dua orang yang salah untuk satu sama lain. 

-Ayu-

*** 

"Tentu saja hanya uang yang membuatmu kembali." (Benny, hal. 74)

Ayu tidak menyangka hidupnya akan berjalan begitu dramatis. Keputusan sang ibu untuk menikah lagi telah mengubah segalanya. Ayah tirinya hanya bisa mabuk-mabukan dan menghabiskan uang yang diperoleh Ayu dengan susah payah. Sayang, ibunya telah dibutakan oleh cinta, hingga selalu menerima setiap perlakuan kasar suaminya.

Puncak perubahan kehidupan Ayu adalah saat ia nyaris dijual paksa oleh ayah tirinya. Ia merasa beruntung karena seorang laki-laki memberikan sejumlah uang pada ayahnya hingga ia pun dibebaskan. Namun, ia salah menduga. Nyatanya, laki-laki kaya itu juga hanya memanfaatkan Ayu untuk memuaskan hasratnya. Sejak saat itu, kehidupan Ayu benar-benar berubah.

Siang hari, Ayu bekerja paruh waktu di Bakery yang merangkap coffee shop, dan menjelang jam 10 malam pekerjaannya berpindah ke sebuah apartemen bernomor 1109. Kebutuhan uang untuk kuliah dan sang ibu yang sudah sakit-sakitan membuat Ayu terbiasa menjalani pekerjaannya. Bahkan Ayu selalu menolak segala bantuan yang ditawarkan Ditto, sahabat lamanya. Ia

Meski berhubungan hampir setiap malam, namun dua sejoli itu tak pernah menyinggung urusan pribadi satu sama lain. Ayu bahkan tidak mengetahui nama lelaki itu. Hingga kemudian kejadian di rumah sakit membuat keduanya saling mengetahui nama lawannya. Lelaki itu bernama Benny Kurniawan.

Mengetahui nama masing-masing membuat Ayu dan Benny bukan lagi sepenuhnya orang asing. Harusnya itu menjadi kabar baik, karena Ayu dan Benny menjadi lebih akrab seperti teman biasa. Namun perasaan yang mulai berubah justru menjadi awal bencana bagi keduanya.

Apa yang sebenarnya harus dilakukan saat dua orang yang sama-sama terluka dipertemukan? Apa mungkin bagi mereka untuk saling menyembuhkan, jika rasa ketakutan akan ditinggalkan selalu membayang?

***

"Hidup yang mengajarkan kalau aku tidak semestinya bergantung pada siapa pun selain diriku sendiri." (Ayu, hal. 120)

Wow. Itu kata pertama yang muncul di kepalaku saat selesai membaca bab pertama novel Stay with Me Tonight ini. Aku memang hanya membaca blurb-nya sekilas, dan tidak langsung lihat back cover-nya saat meminjam novel ini di iJak. Setelah membaca bab pertama itu, barulah aku cek bagian belakang cover-nya. Dan benar saja, di sana tertulis 'novel dewasa'. So, kalian mungkin paham kenapa aku mengatakan 'wow' di awal. 😂😂

Ini kali pertama aku membaca karya Kak Sofi Meloni, dan aku merasa puas. Ide ceritanya menarik dengan tokoh utama wanita yang terpaksa menjadi 'teman tidur' bagi tokoh prianya. Luapan emosi yang tergambar dari cerita ini membuatku ingin banyak berkata kasar. Meski menceritakan pekerjaan Ayu, tapi novel ini bukan sebatas itu. 

Konflik yang ada di sini cukup beragam, tentang ibu Ayu yang dibutakan cinta, Benny yang memiliki luka lama, kehadiran sosok dari masa lalu, dan tentang ketakutan yang menciptakan sebuah keputusan salah. Semuanya berpadu dengan komposisi yang cukup. Dan aku senang karena meskipun memiliki unsur seksual, adegannya tidak banyak, penggambarannya tidak berlebihan, bahasanya juga cukup halus dan tidak membuat risih. Pembaca dapat tetap fokus pada alur cerita, bukan pada hal 'lain-lain'.

Ceritanya menggunakan POV 1 dan dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, penceritanya adalah Ayu, dan bagian keduanya adalah Benny, kecuali di bab terakhir. Bagian pertama memang bercerita tentang kehidupan Ayu dengan kesedihannya, dan bagian kedua menceritakan akibat yang ditanggung Benny setelah keputusan yang diambilnya. Penggunaan sudut pandang ini memang sangat membantu menyampaikan emosi selama cerita berjalan. 

Kisah Ayu-Benny ini diceritakan dengan alur maju, namun ada juga beberapa bagian narasi yang merupakan kilas balik. Pada bagian pertama, ceritanya berjalan dengan tempo sedang, tidak terlalu cepat dan tidak juga terlalu lambat. Plotnya juga cukup rapi. Namun aku merasa bagian kedua berjalan lebih cepat. Mungkin karena ada selang waktu, sehingga beberapa bagian penting bukan diceritakan langsung saat terjadi, melainkan lewat narasi.

Secara keseluruhan, kisah Ayu-Benny ini cukup hidup dengan karakter yang dimiliki tokoh-tokohnya. Ayu merupakan sosok yang tegar dan agak keras kepala. Ia selalu mengandalkan dirinya sendiri untuk bekerja keras dan tidak suka dibantu atas dasar belas kasihan. Benny sendiri awalnya cukup menyebalkan. Luka lama membuatnya menjadi seseorang yang dingin dan tertutup. Kata-katanya pada Ayu juga terbilang kasar dan cukup 'nyelekit'. Selain dua tokoh utama itu, ada juga Ditto, sahabat Ayu dan Yuana, sahabat Benny. Keduanya memiliki sosok yang baik dan perhatian, dan kehadiran mereka sangat memengaruhi jalan cerita.

Novel ini benar-benar terasa dekat dengan kehidupan sekarang, dimana kadang orang-orang melakukan hal-hal yang tidak diinginkan demi meraih sesuatu. Dan yang harus diingat adalah bahwa keputusan yang diambil atas dasar ketakutan akan hal tertentu bisa saja berakibat fatal dan menyisakan penyesalan berkepanjangan.

So, kalau kalian ingin baca novel ini, cari waktu yang lebih luang. Karena ini bukan tipe novel ringan yang akan membuat kalian haha-hihi tertawa sendiri. Sebaliknya, ini merupakan novel yang cukup menguras emosi dan kadang membuat kalian ingin marah-marah. Very recomended buat kalian yang suka novel romance dengan sisi sendu yang dalam.




Read More >>>

Jumat, 12 Mei 2017

[REVIEW] Love Is The End - Christina Tirta

Diposting oleh My Booklicious di 18.56 0 komentar

Judul: Love is The End
Penulis: Christina Tirta
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-602-02-7343-3

BLURB

Walau sudah lama tak bertemu, Naira tak sanggup melepaskan obsesinya terhadap Aidan Rahardja. Katakan saja norak, tapi Aidan memang cinta pertamanya. Katakan saja ini takdir, yang membuat mereka akhirnya berjumpa di kantor tempat Naira bekerja dengan jabatan sebagai atasan baru Naira. Sayangnya, bukannya membawa harapan baru, Aidan malah kembali membuat Naira patah hati dengan mengumumkan bahwa ia telah memiliki kekasih bernama Ami.Tidak tanggung-tanggung, kekasihnya adalah keponakan GM tempat ia bekerja sekaligus anak pemilik perusahaan.

Bobby, Kakak Ami, yang menjadi atasan Naira, membuat Naira semakin "gerah" dengan sifatnya yang jelas-jelas menunjukkan rasa tidak sukanya pada Naira. Tak hanya itu, Bobby seolah-olah menyimpan banyak rahasia dan melibatkan Naira di dalamnya. Merasa tak punya pilihan lain, Naira pun menjalankan tugasnya walau dengan perasaan kesal. Tugas-tugas membuat Naira merasakan sesuatu yang lain pada Bobbi. 

*** 

Naira mencintai Aidan sejak mereka masih mengenakan seragam putih-abu. Kisah permen rasa lemon dan perkenalan mereka di perpustakaan begitu membekas di hati Naira. Pertemanan mereka pun semakin dekat, apalagi mereka berkuliah di kampus yang sama. Sosok Aidan yang supel dan menyenangkan tentu membuat Naira semakin nyaman. Sayangnya, Naira tak bisa mengungkapkan perasaannya, bahkan sampai hari ketika Aidan menghilang.

Meski tahun demi tahun telah berlalu, perasaan Naira untuk Aidan belum mati. Naira masih memiliki potongan rambut bob berponi yang menurut Aidan cocok untuknya. Naira juga masih selalu menyimpan permen rasa lemon di sakunya. Maka, ia begitu kaget saat GM kantornya memperkenalkan dua orang baru: Aidan sebagai kepala divisinya dan Bobbi sebagai wakil GM.

Sama seperti Naira, Aidan juga luar biasa kaget saat melihat Naira di kantornya. Dia yang sempat kabur dan menghilang, kini harus menjelaskan segalanya pada Naira, termasuk tentang Aidan yang telah memiliki kekasih yang tidak lain adalah Ami, adik Bobbi. 

Sejak mengetahui Aidan memiliki Ami, Naira memutuskan untuk melepaskan lelaki itu dan memulai hidup yang baru. Ia juga menerima tawaran Bobbi untuk menjadi asistennya. Sering menghabiskan waktu dengan lelaki mahal senyum itu membuat Naira lebih mengerti akan sosok Bobbi. Namun saat ia mulai merasa nyaman, rahasia keluarga Bobbi dan Aidan membuat perasaannya juga ikut dipertaruhkan. 

Apa yang harus dilakukan jika ketakutan menjadi dinding yang menghalangi masa depan?

*** 

"Kadang hidup itu bukan pilihan. Kadang lo harus berbuat apa yang menurut lo benar walau hati lo nggak sejalan." (hal. 28)

Menarik. Itu kata pertama saat aku membaca blurb-nya, kemudian aku memutuskan untuk membaca Love Is The End ini. Novel ini adalah karya kedua dari penulis yang kubaca, karena sebelumnya aku pernah membaca Dangerous Games. 

Jika dibandingkan dengan Dangerous Games yang merupakan novel berbumbu thriller, novel Love Is The End ini memiliki sisi roman yang lebih kental. Ide ceritanya juga cukup familier, tentang masa lalu dan kehadiran sosok baru. Adanya rahasia keluarga juga cukup berpengaruh pada kisah Naira, Aidan, Bobbi, dan Ami ini. Meski ada beberapa bagian yang tertebak, namun kisah mereka diceritakan dengan cukup menarik.

Aku suka bagaimana penulis bisa merangkum kisah yang sedang berlangsung dan berbagai kilasan masa lalu dengan cukup singkat. Bahkan meski tokohnya cukup banyak dan konfliknya beragam, menyelesaikan novel ini tidak memerlukan waktu yang banyak karena jumlah halamannya saja tidak mencapai angka 200.

Alur ceritanya dibuat campuran antara masa kini dan masa lalu. Beberapa bagian kilas balik dicetak dengan font berbeda, jadi pembaca bisa membedakan cuplikan masa lalu tersebut meski tanpa keterangan. Penceritaannya menggunakan sudut pandang orang pertama dengan Naira sebagai pencerita. Jadi pembaca bisa ikut merasakan bagaimana 'ngenes' dan gregetnya kisah Naira ini.

"... lo tau apa yang terjadi pada hubungan yang dilandasi air mata? Fondasinya bakal lapuk dan ambruk...." (hal. 45)

Meski novel ini memiliki jumlah halaman yang minim, namun karakter tokoh-tokohnya cukup hidup. Karakter Naira terasa berkembang cepat, yang awalnya cukup 'galau' dan setelah tahu Aidan memiliki kekasih, ia cukup mudah untuk melepaskan. Aidan sendiri memang sosok yang menyenangkan. Namun, aku kurang suka bagaimana ia kurang tegas pada perasaannya sendiri dan malah memilih menghilang dari kehidupan Naira. Sedangkan Bobbi, sosoknya yang pendiam dan cukup misterius menjadi poin lebih. Ia bisa begitu dingin dan perhatian di saat yang bersamaan. Sebenarnya karakter seperti Bobbi ini cukup bikin deg-degan karena mereka sulit ditebak dan lebih banyak memberi kejutan. 

Aku juga merasa tidak ada kisah permusuhan dalam novel ini. Bahkan karakter Ami digambarkan seperti putri, cantik dan baik. Ami benar-benar sosok 'pacar gebetan' yang tak patut dibenci. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah sosok Leila, sahabat Naira. Ia merupakan teman berbagi sekaligus pemberi saran yang baik. Bahkan Naira menyebutnya sebagai 'orang bijak'.

Dari novel ini, kita akan belajar bagaimana mengambil keputusan di saat penting, juga bagaimana menghadapi ketakutan demi menyambut masa depan.

"Bukan mati yang gue takutin. Gue nggak mau mati dengan penyesalan." (hal. 58)

Buat kalian yang membutuhkan bacaan padat tapi ringan, ringan tapi padat, novel Love Is The End ini bisa jadi pilihan.





Read More >>>

Jumat, 10 Maret 2017

[REVIEW] After Wedding - Pradnya Paramitha

Diposting oleh My Booklicious di 04.20 0 komentar

Judul: After Wedding
Penulis: Pradnya Patamitha
Editor: Pradita Seti Rahayu
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-602-02-9860-3

BLURB

"Jadi, saya mencari perempuan yang bersedia saya nikahi," Rad memberi jeda satu tarikan napas, "tanpa cinta."

Reya Gayatri tak pernah menduga bahwa keputusannya menikah dengan celebrity chef bernama Radina Alief Pramoedya merupakan keputusan paling gila dalam hidupnya. Selama 30 tahun, Reya terbiasa dengan hidup yang tertata. Tetapi, kini, hidup dosen muda di jurusan Ilmu Politik itu terasa seperti roller coaster.

Sebagai public figure, Rad terbiasa bertemu dengan berbagai macam orang tahu bagaimana cara berhadapan dengan mereka. Tetapi, tidak untuk Reya. Rad jadi sering kewalahan dan menghela napas frustrasi bahkan sejak malam pertamanya.

Rad juga tidak menyangka, perlahan-lahan, kehadiran Reya mengancam segenap benteng pertahankan diri atas cinta juga mengoyahkan janji pada masa lalu yang ia ikrarkan sendiri.

Jangan jatuh cinta pada saya. Maka, kamu akan baik-baik saja. (Rad)

Mereka tidak menikah karena dipaksa. Ini adalah keputusan bersama. Tetapi, ternyata pernikahan bukan hanya soal menggelar resepsi dan perubahan status suami istri saja. Sanggupkah Rad dan Reya mempertahankan keputusannya?

***

Reya Gayatri tidak pernah menyangka hidupnya akan berjalan begitu dramatis. Mendapati kekasihnya selingkuh, kemudian dilamar oleh Rad bahkan pada perjumpaan pertama mereka. Reya memang berencana menikah, tapi putusnya hubungan dengan Hario membuat pikiran dan hatinya menjadi kacau. Apalagi kenyataan bahwa Lia belum bisa menikah—karena budaya tak membolehkan adik melangkahi kakaknya—membuat anggota keluarga besar selalu merecokinya dengan pertanyaan ‘kapan nikah?'.

Maka, lamaran Rad seperti pintu yang membuka jalan bagi Reya agar berhenti direcoki pertanyaan sejuta umat itu. Sebagai dosen jurusan Ilmu Politik sekaligus mahasiswa S3, kecerdasan Reya memang tidak perlu diragukan. Cara berpikirnya sangat logis dan cukup berbeda dengan kebanyakan perempuan. Namun, rupanya sifat logis Reya tidak cukup mampu untuk mencegah Reya mengambil keputusan itu: menerima lamaran Rad.

Pernikahan Reya dan Rad berjalan lancar, meski sederhana dan hanya dihadiri keluarga dan sahabat dekat mereka. Sayangnya, cobaan untuk sepasang suami-istri itu sudah datang bahkan sejak malam pertama mereka. Sosok Hario dan penjelasan yang dibawanya membuat Reya merasa goyah. Beruntungnya, Rad berhasil meyakinkah Reya untuk menjaga komitmen yang telah mereka putuskan bersama.

Namun, bukan hidup namanya jika cobaan hanya datang sekali. Saat keduanya sudah ‘kompak’ dan merasa nyaman satu sama lain, saat Reya bahkan telah yakin tentang perasaannya pada Rad, kenyataan pahit tentang masa lalu Rad datang mengusiknya. Reya mulai mengerti mengapa Rad mencari perempuan yang bersedia dinikahi tanpa cinta. Dan saat Reya memutuskan untuk menerima semuanya, masalah yang lebih nyata kembali hadir.

Reya dan Rad memang memiliki pemahaman yang sama atas cinta, atas komitmen, dan atas pilihan dalam hidup. Namun, akankah itu semua cukup mampu menahan cobaan yang datang bertubi-tubi menerpa pernikahan mereka?

"Jangan jatuh cinta pada saya, Rey. Maka, kamu akan baik-baik saja." (hal. 59)
  
*** 
  
"Yang saya nggak percaya adalah, peran cinta sebagai dasar dari hubungan dua manusia."

"Kenapa? Bukankah hubungan dua manusia sebaiknya memang didasari cinta? Misalnya, pernikahan."

"Cinta bisa datang dan pergi. Cinta bisa menghilang dengan begitu tiba-tiba, sama seperti kedatangannya yang juga kadang tiba-tiba. Jadi, bagaimana kita menjadikan sesuatu yang serba nggak pasti itu sebagai tolok ukur?"
(hal. 20)

After Wedding merupakan novel seri Le Mariage Elex Media pertama yang kubaca, dan aku merasa puas dengan ceritanya. Pernikahan yang terkesan grasa-grusu dengan orang yang baru saja dikenal, dilandasi tuntutan keluarga dan budaya, dan dilakukan tanpa adanya rasa cinta memang sudah menjadi cerita yang umum. Namun, Kak Pradnya tetap membawakannya dengan baik, dengan bumbu konflik yang tidak membuat bosan meski ada beberapa bagian yang dapat ditebak. Gaya bercerita Kak Pradnya di novel ini pun cukup detail. Tak heran jika halamannya mencapai angka 450-an.

Novel ini diceritakan dengan alur maju, dengan menyertakan beberapa bagian kilas balik. Berawal dari perkenalan Reya dengan Rad, pernikahan, kemudian kehidupan mereka pasca-pernikahan. Konflik awal ada pada Reya, kemudian setelah itu mereda, giliran Rad yang terkena masalah. Konfliknya semakin memuncak hingga mencapai penyelesaian di bagian akhir. Dan saat konfliknya memuncak, aku berkali-kali dibuat greget sekaligus ‘nyesek’. Aku acungi jempol untuk Kak Pradnya atas keahliannya menguras emosi pembaca.

Sudut pandang orang ketiga yang dipakai dalam novel ini pun membuat cerita mengalir lancar dan seimbang. Tidak fokus pada kisah salah satu, Reya saja atau Rad saja. Karena pada beberapa bagian ada yang hanya melibatkan salah satu, jika memakai POV pertama mungkin harus dilakukan bergantian. Dan daripada memilih itu, yang kemungkinan membuat pembaca kurang nyaman, pemilihan POV orang ketiga ini dirasa cukup pas.

Selain itu, pengambilan sudut pandang orang ketiga ini juga membuat Kak Pradnya bisa memberi detail pada karakter masing-masing tokohnya. Meski dibagian awal sempat membuat kesal, namun tokoh favoritku tetap Reya. Dia adalah perempuan cerdas dan pandai menyembunyikan luka. Sosok Rad memang menggoda untuk dijadikan tokoh favorit. Namun, pada bagian-bagian penting, dia mudah bingung dalam megambil keputusan. Kalau ada tokoh yang tidak kusukai, maka itu adalah Kinanti. Satu kata untuknya: menyebalkan. Beruntungnya, selain mereka, tokoh-tokoh pendukungnya juga cubit-able, misalnya Gesank—sepupu Reya—dan Andini—sahabat Reya. Kisah keduanya juga cukup menarik. Meski hanya dijelaskan sekilas, namun kalau ada cerita yang full tentang Gesank-Andini, aku tidak keberatan untuk membacanya.

Secara keseluruhan, novel ini memberikan konflik pernikahan yang cukup kental dan memerlukan penyelesaian dengan pemikiran dewasa. Dan nyatanya, pernikahan bukan akhir dari masalah. Setelah menikah, sepasang suami-istri justru akan dihadapkan pada berbagai masalah lain dan mereka harus menyelesaikannya bersama-sama. Upacara pernikahan memang mudah dilakukan, namun menyatukan dua pemikiran dan dua perasaan menjadi satu yang menghimpun semuanya adalah hal yang cukup sulit. Perlu penerimaan dengan hati yang lapang untuk menghadapi cobaan bersama-sama dan menjaga komitmen yang telah dibangun bersama.

"Cintamu nggak cukup besar untuk menghadapi keegoisan saya, Rad." (hal. 373)

Novel ini cocok banget untuk kalian yang sudah memasuki usia matang, tinggal di lingkungan yang kental akan budaya, dan kerap direcoki pertanyaan ‘kapan nikah?’, seperti Reya. Untuk kalian yang suka novel romance dari seri Le Mariage, jangan lupa masukkan chef Juna, *eh chef Rad, ke dalam TBR kalian, ya.







Read More >>>
 

My Booklicious Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea