Jumat, 30 Juni 2017

[REVIEW] The Passionate Marriage - Indah Hanaco

Diposting oleh My Booklicious di 11.29 0 komentar

Judul: The Passionate Marriage
Penulis: Indah Hanaco
Desain cover: Dyndha Hanjani P.
Penata Isi: Putri Widia Novita
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: Maret 2017
ISBN: 978-602-375-844-9

BLURB

Tentang Gwen

Dia punya keindahan tersendiri. Pesona yang melampaui keelokan fisik yang juga dimilikinya. Di zaman serba sinting ini, menemukan perempuan seperti dia, mungkin mendekati langka. Sayang, dia terlalu takut untuk menyerahkan hatinya.

Tentang Phillip

Dia kian menawan karena kelembutan dan hati yang penuh kasih. Juga menjanjikan cinta yang tak kan pernah berkhianat. Namun, tetap saja dia pria menawan yang memikat banyak hati, magnet bagi banyak mata. Mungkinkah dia takkan pernah mematahkan janjinya?

Mereka sama-sama saling menginginkan.
Tapi yang satu tak punya keberanian untuk membuka hati dan menghadapi cinta nya . Hingga sebuah tragedi membuka pintu te rkunci yang selama ini tak pe rnah diyakini kebe radaan nya . Sayang, tatkala me reka sepakat melangkah ke sana, ada banyak sekali jebakan yang siap memusnahkan semua perasaan .

Mungkinkah CINTA MEREKA CUKUP TANGGUH untuk menang dan membungkam segala persoalan?

***

Gwen Camelia adalah seorang gadis mandiri yang bekerja untuk membiayai hidupnya serta adik-adiknya, Vivit dan Inge. Ia menjadi pencatat pesanan sekaligus kasir di Dapur Keliling, sebuah food truck yang beroperasi di kawasan perkantoran sekitar Ciawi, Bogor.

Bekerja di Dapur Keliling membuat Gwen mengenal Phillip, seorang kepala Departemen Distribusi di PT Adiwangsa Sejati. Phillip pun menjadi pelanggan tetap Dapur Keliling karena merasa tertarik pada Gwen. Paras cantik serta sikap ramah Gwen membuat Phillip semakin menyukai gadis itu. Ia pun secara terang-terangan mengajak Gwen berkencan.

Sayangnya, kisah masa lalu membuat Gwen takut untuk memberikan kesempatan pada Phillip, juga pada dirinya sendiri. Padahal hatinya pun mulai goyah oleh kebaikan Phillip. Hingga kemudian suatu kejadian buruk menimpa Gwen. Phillip yang saat itu menolongnya sudah membulatkan tekad untuk tidak melepaskan Gwen dan berniat menikahinya.

Bayangan tentang kebaikan Phillip dan keinginan untuk membahagiakan adik-adiknya membuat Gwen akhirnya menerima Phillip. Menikah dengan Gwen merupakan awal kehidupannya yang lebih baik, baik dari segi materiel maupun morel. Namun roda kehidupan terus berputar. Mulai dari berbagai rahasia masa lalu sampai hadirnya sosok-sosok pengganggu, kehidupan rumah tangga Gwen-Phillip mendapat berbagai cobaan.

Dapatkah keduanya tetap saling percaya untuk menangkis semua permasalahan yang datang?

***

Kadar kasih sayang itu nggak ditandai dengan hubungan darah, Gwen. Berapa banyak orang tua yang nggak mengasihi anak-anaknya sendiri." (hal. 142)

Novel The Passionate Marriage ini merupakan novel Delicious Marriage #2. Tokoh utamanya masih berkaitan dengan tokoh utama di Delicious Marriage #1, namun bukan seri bersambung. Jadi, novel ini tetap bisa dinikmati tanpa membuat bingung meski belum membaca Delicious Marriage #1 (soalnya aku juga belum baca πŸ˜₯).

Aku udah baca beberapa karya Kak Indah Hanaco sebelum ini, termasuk seri ATWWL batch 1 sampai 3. Kak Indah punya khas sendiri tentang hero-heroine di novel-novelnya, misalnya segi fisiknya yang sering dibuat menawan dan segi sosial-psikologi mereka menjadi bahan untuk konflik. Hasilnya, aku selalu tertarik untuk membaca karya-karyanya yang lain. Mungkin karena itu pula aku menaruh ekspektasi tinggi untuk novel ini.

Tokoh-tokohnya, seperti biasa, digambarkan memiliki paras rupawan. Terutama Gwen. Kehadirannya mampu menarik perhatian para pegawai kantor yang menjadi konsumen Dapur Keliling. Sikapnya yang ramah namun tetap menutup diri dari laki-laki membuat mereka justru makin penasaran.

Sedangkan Phillip merupakan sosok yang tampan, perhatian, suka membantu. Gak hanya pada Gwen, tapi juga pada staf bawahannya di kantor. Dua adik Gwen, Vivit dan Inge, cukup menarik perhatian. Mereka bisa bersikap dewasa, tapi juga bisa sangat polos. Selain itu, kalian juga akan berkenalan dengan Janna dan Rafe. Siapa mereka? Baca aja sendiri novelnya, ya. :D Mereka cukup banyak muncul di cerita, kok.

Penceritaan di novel sudah sesuai apa yang kubayangkan. Kisah Gwen-Phillip di novel ini diceritakan dengan gaya Kak Indah yang santai dan kalimat-kalimat yang rapi. Tapi, entah kenapa, kali ini aku merasa kurang puas untuk segi konflik dan penyelesaiannya.

Beberapa masalah yang datang setelah pernikahan Gwen dan Phillip terasa kurang menantang dan cukup tertebak. Apalagi masalah-masalah itu tidak bersamaan. Jadi lebih terasa seperti ledakan kecil yang datang bergantian dan dapat dengan mudah diatasi. Untuk novel tentang dunia pernikahan, novel ini bisa dibilang cukup ringan.

Selain itu, porsi Janna dan Rafe juga sangat banyak di sini. Bahkan kisah dua orang tersebut, di luar kisah Gwen dan Phillip, hampir bisa tertebak. Aku jadi merasa fokusku terbagi. Penasaran dengan lanjutan kisah Gwen-Phillip, sekaligus penasaran dengan cerita lengkap Janna-Rafe. Tapi, kalau kalian suka bacaan dengan tokoh yang cukup banyak dan konfliknya ringan, novel ini bisa jadi pilihan.

"Kalau kau mencintaiku, kau harus memercayaiku, Gwen." (hal. 135)

Setelah novel The Passionate Marriage ini, Kak Indah juga udah menerbitkan novel young-adult penerbit Gramedia, Fixing A Broken Heart. Dua novel lainnya juga segera nyusul mejeng di toko buku. Buat kalian pecinta karya Kak Indah, selamat berburu, ya!




Read More >>>

Jumat, 23 Juni 2017

[REVIEW] Melody to the Moon - Arini Putri

Diposting oleh My Booklicious di 14.24 0 komentar

Judul: Melody to the Moon
Penulis: Arini Putri
Penyunting: Adelaine
Pemyelaras Aksara: Seplia
Desainer Sampul: Indah Rakhmawati
Penerbit: Penerbit Haru Media
Tahun Terbit: April 2017

BLURB

Cindy Karina Putri bermimpi untuk menjadi pianis sejak bertemu dengan Theo Han, seorang pianis terkenal berdarah Korea. Bagi gadis itu, sosok Theo Han bagaikan bulan yang bersinar terang, tapi jauh dan tak terjangkau.

Demi menggapai impian, Cindy berusaha keras meski keluarganya menentangnya. Dia bahkan bekerja paruh waktu di Moon Melody, sebuah toko alat musik.

Impian itu mendadak jadi lebih dekat karena kehadiran Jino, seorang stalker berambut abu-abu.

Siapakah Jino sebenarnya? Siapkah Cindy menghadapi rahasia besar mengenai sosok Theo Han?

***

"Dan piano bukan untuk orang yang menyerah. Piano hanya akan menerimamu kalau kau punya kemauan yang kuat." (hal. 67)

Melody to the Moon menceritakan tentang Cindy, seorang mahasiswi yang bermimpi menjadi seorang pianis sejak bertemu dengan Theo Han. Karena keluarganya menentang, Cindy akhirnya hanya berlatih diam-diam dan otodidak sambil bekerja paruh waktu di toko alat musik, Moon Melody.

Sosok Cindy yang begitu ceria saat bermain piano di Moon Melody menarik perhatian Jino yang saat itu tengah duduk di restoran seberang Moon Melody. Akhirnya Jino terbiasa memperhatikan dan mengikuti Cindy, menjadi stalker-nya. Kemudian sebuah sapaan setelah turun dari KRL mengawali hubungan Cindy dan Jino. 

Cindy awalnya ragu untuk dekat dengan Jino karena laki-laki itu adalah orang yang menguntitnya, apalagi Jino enggan jujur tentang alasannya. Namun Jino pernah membantunya saat nyaris kecopetan, sehingga Cindy yakin bahwa Jino tidak memiliki niat jahat. 

Keadaan mulai berubah saat Cindy menemukan satu rahasia Jino yang sangat mengejutkan. Rahasia itu membuka jalannya untuk semakin dekat pada mimpi menjadi pianis, sekaligus membawanya pada rahasia-rahasia lain, termasuk rahasia yang berkaitan dengan sang idola.

"Gadis itu... dia benar-benar enggak akan berhenti. Kadang dia memang terlihat menyebalkan dan keras kepala. Tapi semangatnya selalu membuat hati kita hangat, kan?" (hal. 90)

***

"Apa menurutmu rasa kagum bisa berubah jadi benci?"
"Mungkin. Kalau kita dibuat kecewa." (hal. 177)

Novel ini menceritakan tentang mimpi sekaligus mengangkat tema tentang musik klasik. Tapi aku gak ngerti apa-apa tentang musik klasiknya, jadi fokusku lebih ke jalan ceritanya aja. Ceritanya ini seperti memiliki 2 fokus, yaitu mimpi Cindy dan rahasia Jino-Theo. Menurutku, porsi fokus kedua lebih banyak. Detail kisah tentang Jino dan Theo lebih banyak dibandingkan kisah Cindy sendiri. Tapi dua fokus ini juga cukup berkaitan, jadi tetap menarik untuk diikuti.

Selain itu, aku juga baru pertama kali membaca karya Kak Arin. Dan novel Melody to the Moon ini menggambarkan gaya bercerita Kak Arin yang nyaman dibaca. Cerita yang lucu-gemesin, kadang nyebelin, kadang juga sendu dan bikin baper, semuanya disampaikan dengan kalimat-kalimat narasi dan dialog yang rapi sehingga sangat membantu membangun suasana cerita. 

Menurutku, alurnya juga bagus, meski ada beberapa bagian flashback Jino dan Theo yang gak banyak memberikan petunjuk tentang kejadian masa lalu dan malah bikin cerita terkesan agak mandeg. Tapi flashback itu juga nambah suasana sendu dan pastinya bikin makin penasaran sama masalah apa yang dulu terjadi di antara Jino dan Theo.

Dan, menjelang akhir aku mendapat dobrakan yang bikin kaget. Ternyata... *baca sendiri, ya!*

Lalu, yang paling aku suka di novel ini adalah karakterisasi tokoh-tokohnya. Kak Arin memberikan detail fisik yang mudah diingat. Misalnya, Jino dengan rambut abu-abu dan Cindy dijuluki stroberi karena hidungnya mudah memerah. Karakter mereka juga sangat manusiawi, bukan yang banyak drama ala FTV.  Situasi dan emosi mereka, terutama Jino-Cindy-Theo, cukup akrab dengan kehidupan sehari-hari. Interaksi mereka juga cukup kuat. 

Sayangnya, aku juga menemukan bagian yang agak membingungkan. Di halaman 51, saat Theo akan bertemu Andrew, dijelaskan bahwa Theo datang lebih dulu dan duduk sambil menunggu Andrew. Tapi, tepat di halaman 52 disebutkan bahwa Theo berjalan diikuti seorang wanita. Mungkin maksudnya yang berjalan ke arah meja Theo adalah Andrew. Tapi cuma itu aja, kok. Sisanya hanya ada 1-2 typo yang sama sekali gak mengganggu. 

Terakhir, novel ini bisa jadi kompor buat 'para Cindy' di luar sana. Jadi, jangan ragu buat masukin Melody to the Moon ke rak buku kalian, ya!




Read More >>>

Rabu, 17 Mei 2017

[IRRC 2017] Update Post: Wrap Up Januari—April 2017

Diposting oleh My Booklicious di 12.25 1 komentar


Hai... Hai... Hai...
Aku datang lagi, nih, tapi bukan untuk posting review atau berbagi tips, ya. Kali ini, aku datang untuk bayar utang (tapi gak langsung lunas). Nah, lho! Utang apa, hayo?

Seperti yang dijelaskan pada postingan bulan Januari lalu, aku mengikuti Indonesian Romance Reading Challenge (IRRC) 2017 dari dua host ketje, Kak Kiky dan Kak Asri. Nah, bulan ini ada tugas buat peserta, yaitu untuk membuat update post dan wrap up challenge selama bulan Januari sampai April 2017.

Kalau boleh sedikit curhat, tahun ini adalah kali pertama aku mengikuti challenge dunia perbukuan, termasuk challenge di Goodreads dan IRRC ini. Jadi, bisa dikatakan bahwa aku benar-benar merasa tertantang. Saking tertantangnya, di IRRC ini aku pasang target 50 buku, lho. Mungkin karena ini genre favoritku juga sih, makanya berani pasang angka segitu. Coba kalau genre lain... πŸ˜‚πŸ˜‚

Nah, terus gimana nih progress baca untuk IRRC sampai bulan ini? Yaaah, gak ada jalan yang sepanjangnya bakal mulus. Termasuk jalan untuk baca buku. Adaaa aja cobaannya. Target per bulan gak selalu terpenuhi. Ada kalanya mendadak sibuk, ada juga pas gak sibuk tapi semangat drop sampai namatin satu novel aja susah banget.

Targetku baca 5 novel per bulan ternyata belum tercapai. Kalau tercapai, harusnya sampai akhir April ada 20 novel romance yang kubaca. Tapi, nyatanya sampai akhir April aku baru baca 18 novel romance untuk IRRC. Itu pun masih ngutang beberapa review. T__T

Sedih, sih. Tapi kukembalikan ke niat awal, bahwa aku ikut IRRC ini bukan sebatas untuk menghabiskan beberapa TBR, melainkan juga untuk mengasah kemampuan me-review. Beberapa buku malah sudah kubaca sebelumnya namun belum kubuat review-nya. Jadinya baca ulang, deh. Setidaknya dengan ikut IRRC ini, aku punya tuntutan untuk me-review setiap buku yang kubaca. Untuk newbie sepertiku, pencapaian sejauh ini rasanya sudah cukup memuaskan. Tinggal semangatku yang harus ditingkatkan dan mengurangi 'kemageran'. πŸ˜‚πŸ˜‚

Jadi, aku udah baca buku romance apa aja nih dari Januari sampai April 2017? Ini dia list-nya:


  1. Dublin - Yuli Pritania
  2. Frankfurt - Ninna Rosmina
  3. In Between - Angelique Puspadewi
  4. Heartwarming Chocolate - Prisca Primasari
  5. Lost and Found - Dy Lunaly
  6. Love Me Again - Indah Hanaco
  7. DΓ©essert - Elsa Puspita
  8. Love Cake - Jee (utang review -_-)
  9. The Playlist - Erlin Natawiria
  10. After Wedding - Pradnya Paramitha
  11. The Rising Star - Angelique Puspadewi
  12. Sweet Karma - Ayudewi
  13. Wedding Rush - Jenny Thalia F. (utang review -_-)
  14. Little Bit of Muffin - Aiu Ahra
  15. The Lost Bride - Ghyna Amanda
  16. Some Kind of Wonderful - Winna Efendi
  17. Love Is The End - Christina Tirta
  18. Stay with Me Tonight - Sofi Meloni
Link bookshelve IRRC 2017 di Goodreads: klik di sini

Bulan ini aku baru namatin 1 novel. Sedihnya... T_T
Tapi gimana lagi. Semangat lagi drop, persiapan buat wisuda juga bikin gak bisa fokus baca, padahal TBR di rak sama di scoop juga udah numpuk. Semoga setelah ini semangat baca nambah lagi dan TBR bisa dilibas sampai habis. :)))

So, buat kalian yang juga ikut IRRC 2017, ayo buat update post-nya. Buat yang belum ikutan, kalian masih bisa daftar lho. Cek aja master post host-nya di postingan Kak Asri (di sini) atau Kak Kiky (di sini).

Semangat baca dan salam literasi!





Read More >>>

Minggu, 14 Mei 2017

[REVIEW] Stay with Me Tonight - Sofi Meloni

Diposting oleh My Booklicious di 03.52 0 komentar

Judul: Stay with Me Tonight
Penulis: Sofi Meloni
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-602-02-6646-6

BLURB

Mereka bilang hubungan di atas tempat tidur dan cinta itu dua yang berbeda.
Katanya lagi hubungan intim bisa dilakukan dengan ataupun tanpa cinta.
Dengan cinta? Bullshits...!
Cinta itu hanya ada di cerita dongeng belaka, setidaknya itu yang kupercaya sampai aku bertemu dengannya....

Mungkin pertemuan kita diawali dengan cara yang salah dan mungkin juga pada dasarnya dua orang yang sama-sama terluka tidak seharusnya bersama. 
Pada akhirnya kita harus mengakui kalau kita adalah dua orang yang salah untuk satu sama lain. 

-Ayu-

*** 

"Tentu saja hanya uang yang membuatmu kembali." (Benny, hal. 74)

Ayu tidak menyangka hidupnya akan berjalan begitu dramatis. Keputusan sang ibu untuk menikah lagi telah mengubah segalanya. Ayah tirinya hanya bisa mabuk-mabukan dan menghabiskan uang yang diperoleh Ayu dengan susah payah. Sayang, ibunya telah dibutakan oleh cinta, hingga selalu menerima setiap perlakuan kasar suaminya.

Puncak perubahan kehidupan Ayu adalah saat ia nyaris dijual paksa oleh ayah tirinya. Ia merasa beruntung karena seorang laki-laki memberikan sejumlah uang pada ayahnya hingga ia pun dibebaskan. Namun, ia salah menduga. Nyatanya, laki-laki kaya itu juga hanya memanfaatkan Ayu untuk memuaskan hasratnya. Sejak saat itu, kehidupan Ayu benar-benar berubah.

Siang hari, Ayu bekerja paruh waktu di Bakery yang merangkap coffee shop, dan menjelang jam 10 malam pekerjaannya berpindah ke sebuah apartemen bernomor 1109. Kebutuhan uang untuk kuliah dan sang ibu yang sudah sakit-sakitan membuat Ayu terbiasa menjalani pekerjaannya. Bahkan Ayu selalu menolak segala bantuan yang ditawarkan Ditto, sahabat lamanya. Ia

Meski berhubungan hampir setiap malam, namun dua sejoli itu tak pernah menyinggung urusan pribadi satu sama lain. Ayu bahkan tidak mengetahui nama lelaki itu. Hingga kemudian kejadian di rumah sakit membuat keduanya saling mengetahui nama lawannya. Lelaki itu bernama Benny Kurniawan.

Mengetahui nama masing-masing membuat Ayu dan Benny bukan lagi sepenuhnya orang asing. Harusnya itu menjadi kabar baik, karena Ayu dan Benny menjadi lebih akrab seperti teman biasa. Namun perasaan yang mulai berubah justru menjadi awal bencana bagi keduanya.

Apa yang sebenarnya harus dilakukan saat dua orang yang sama-sama terluka dipertemukan? Apa mungkin bagi mereka untuk saling menyembuhkan, jika rasa ketakutan akan ditinggalkan selalu membayang?

***

"Hidup yang mengajarkan kalau aku tidak semestinya bergantung pada siapa pun selain diriku sendiri." (Ayu, hal. 120)

Wow. Itu kata pertama yang muncul di kepalaku saat selesai membaca bab pertama novel Stay with Me Tonight ini. Aku memang hanya membaca blurb-nya sekilas, dan tidak langsung lihat back cover-nya saat meminjam novel ini di iJak. Setelah membaca bab pertama itu, barulah aku cek bagian belakang cover-nya. Dan benar saja, di sana tertulis 'novel dewasa'. So, kalian mungkin paham kenapa aku mengatakan 'wow' di awal. πŸ˜‚πŸ˜‚

Ini kali pertama aku membaca karya Kak Sofi Meloni, dan aku merasa puas. Ide ceritanya menarik dengan tokoh utama wanita yang terpaksa menjadi 'teman tidur' bagi tokoh prianya. Luapan emosi yang tergambar dari cerita ini membuatku ingin banyak berkata kasar. Meski menceritakan pekerjaan Ayu, tapi novel ini bukan sebatas itu. 

Konflik yang ada di sini cukup beragam, tentang ibu Ayu yang dibutakan cinta, Benny yang memiliki luka lama, kehadiran sosok dari masa lalu, dan tentang ketakutan yang menciptakan sebuah keputusan salah. Semuanya berpadu dengan komposisi yang cukup. Dan aku senang karena meskipun memiliki unsur seksual, adegannya tidak banyak, penggambarannya tidak berlebihan, bahasanya juga cukup halus dan tidak membuat risih. Pembaca dapat tetap fokus pada alur cerita, bukan pada hal 'lain-lain'.

Ceritanya menggunakan POV 1 dan dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, penceritanya adalah Ayu, dan bagian keduanya adalah Benny, kecuali di bab terakhir. Bagian pertama memang bercerita tentang kehidupan Ayu dengan kesedihannya, dan bagian kedua menceritakan akibat yang ditanggung Benny setelah keputusan yang diambilnya. Penggunaan sudut pandang ini memang sangat membantu menyampaikan emosi selama cerita berjalan. 

Kisah Ayu-Benny ini diceritakan dengan alur maju, namun ada juga beberapa bagian narasi yang merupakan kilas balik. Pada bagian pertama, ceritanya berjalan dengan tempo sedang, tidak terlalu cepat dan tidak juga terlalu lambat. Plotnya juga cukup rapi. Namun aku merasa bagian kedua berjalan lebih cepat. Mungkin karena ada selang waktu, sehingga beberapa bagian penting bukan diceritakan langsung saat terjadi, melainkan lewat narasi.

Secara keseluruhan, kisah Ayu-Benny ini cukup hidup dengan karakter yang dimiliki tokoh-tokohnya. Ayu merupakan sosok yang tegar dan agak keras kepala. Ia selalu mengandalkan dirinya sendiri untuk bekerja keras dan tidak suka dibantu atas dasar belas kasihan. Benny sendiri awalnya cukup menyebalkan. Luka lama membuatnya menjadi seseorang yang dingin dan tertutup. Kata-katanya pada Ayu juga terbilang kasar dan cukup 'nyelekit'. Selain dua tokoh utama itu, ada juga Ditto, sahabat Ayu dan Yuana, sahabat Benny. Keduanya memiliki sosok yang baik dan perhatian, dan kehadiran mereka sangat memengaruhi jalan cerita.

Novel ini benar-benar terasa dekat dengan kehidupan sekarang, dimana kadang orang-orang melakukan hal-hal yang tidak diinginkan demi meraih sesuatu. Dan yang harus diingat adalah bahwa keputusan yang diambil atas dasar ketakutan akan hal tertentu bisa saja berakibat fatal dan menyisakan penyesalan berkepanjangan.

So, kalau kalian ingin baca novel ini, cari waktu yang lebih luang. Karena ini bukan tipe novel ringan yang akan membuat kalian haha-hihi tertawa sendiri. Sebaliknya, ini merupakan novel yang cukup menguras emosi dan kadang membuat kalian ingin marah-marah. Very recomended buat kalian yang suka novel romance dengan sisi sendu yang dalam.




Read More >>>

Jumat, 12 Mei 2017

[REVIEW] Love Is The End - Christina Tirta

Diposting oleh My Booklicious di 18.56 0 komentar

Judul: Love is The End
Penulis: Christina Tirta
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-602-02-7343-3

BLURB

Walau sudah lama tak bertemu, Naira tak sanggup melepaskan obsesinya terhadap Aidan Rahardja. Katakan saja norak, tapi Aidan memang cinta pertamanya. Katakan saja ini takdir, yang membuat mereka akhirnya berjumpa di kantor tempat Naira bekerja dengan jabatan sebagai atasan baru Naira. Sayangnya, bukannya membawa harapan baru, Aidan malah kembali membuat Naira patah hati dengan mengumumkan bahwa ia telah memiliki kekasih bernama Ami.Tidak tanggung-tanggung, kekasihnya adalah keponakan GM tempat ia bekerja sekaligus anak pemilik perusahaan.

Bobby, Kakak Ami, yang menjadi atasan Naira, membuat Naira semakin "gerah" dengan sifatnya yang jelas-jelas menunjukkan rasa tidak sukanya pada Naira. Tak hanya itu, Bobby seolah-olah menyimpan banyak rahasia dan melibatkan Naira di dalamnya. Merasa tak punya pilihan lain, Naira pun menjalankan tugasnya walau dengan perasaan kesal. Tugas-tugas membuat Naira merasakan sesuatu yang lain pada Bobbi. 

*** 

Naira mencintai Aidan sejak mereka masih mengenakan seragam putih-abu. Kisah permen rasa lemon dan perkenalan mereka di perpustakaan begitu membekas di hati Naira. Pertemanan mereka pun semakin dekat, apalagi mereka berkuliah di kampus yang sama. Sosok Aidan yang supel dan menyenangkan tentu membuat Naira semakin nyaman. Sayangnya, Naira tak bisa mengungkapkan perasaannya, bahkan sampai hari ketika Aidan menghilang.

Meski tahun demi tahun telah berlalu, perasaan Naira untuk Aidan belum mati. Naira masih memiliki potongan rambut bob berponi yang menurut Aidan cocok untuknya. Naira juga masih selalu menyimpan permen rasa lemon di sakunya. Maka, ia begitu kaget saat GM kantornya memperkenalkan dua orang baru: Aidan sebagai kepala divisinya dan Bobbi sebagai wakil GM.

Sama seperti Naira, Aidan juga luar biasa kaget saat melihat Naira di kantornya. Dia yang sempat kabur dan menghilang, kini harus menjelaskan segalanya pada Naira, termasuk tentang Aidan yang telah memiliki kekasih yang tidak lain adalah Ami, adik Bobbi. 

Sejak mengetahui Aidan memiliki Ami, Naira memutuskan untuk melepaskan lelaki itu dan memulai hidup yang baru. Ia juga menerima tawaran Bobbi untuk menjadi asistennya. Sering menghabiskan waktu dengan lelaki mahal senyum itu membuat Naira lebih mengerti akan sosok Bobbi. Namun saat ia mulai merasa nyaman, rahasia keluarga Bobbi dan Aidan membuat perasaannya juga ikut dipertaruhkan. 

Apa yang harus dilakukan jika ketakutan menjadi dinding yang menghalangi masa depan?

*** 

"Kadang hidup itu bukan pilihan. Kadang lo harus berbuat apa yang menurut lo benar walau hati lo nggak sejalan." (hal. 28)

Menarik. Itu kata pertama saat aku membaca blurb-nya, kemudian aku memutuskan untuk membaca Love Is The End ini. Novel ini adalah karya kedua dari penulis yang kubaca, karena sebelumnya aku pernah membaca Dangerous Games. 

Jika dibandingkan dengan Dangerous Games yang merupakan novel berbumbu thriller, novel Love Is The End ini memiliki sisi roman yang lebih kental. Ide ceritanya juga cukup familier, tentang masa lalu dan kehadiran sosok baru. Adanya rahasia keluarga juga cukup berpengaruh pada kisah Naira, Aidan, Bobbi, dan Ami ini. Meski ada beberapa bagian yang tertebak, namun kisah mereka diceritakan dengan cukup menarik.

Aku suka bagaimana penulis bisa merangkum kisah yang sedang berlangsung dan berbagai kilasan masa lalu dengan cukup singkat. Bahkan meski tokohnya cukup banyak dan konfliknya beragam, menyelesaikan novel ini tidak memerlukan waktu yang banyak karena jumlah halamannya saja tidak mencapai angka 200.

Alur ceritanya dibuat campuran antara masa kini dan masa lalu. Beberapa bagian kilas balik dicetak dengan font berbeda, jadi pembaca bisa membedakan cuplikan masa lalu tersebut meski tanpa keterangan. Penceritaannya menggunakan sudut pandang orang pertama dengan Naira sebagai pencerita. Jadi pembaca bisa ikut merasakan bagaimana 'ngenes' dan gregetnya kisah Naira ini.

"... lo tau apa yang terjadi pada hubungan yang dilandasi air mata? Fondasinya bakal lapuk dan ambruk...." (hal. 45)

Meski novel ini memiliki jumlah halaman yang minim, namun karakter tokoh-tokohnya cukup hidup. Karakter Naira terasa berkembang cepat, yang awalnya cukup 'galau' dan setelah tahu Aidan memiliki kekasih, ia cukup mudah untuk melepaskan. Aidan sendiri memang sosok yang menyenangkan. Namun, aku kurang suka bagaimana ia kurang tegas pada perasaannya sendiri dan malah memilih menghilang dari kehidupan Naira. Sedangkan Bobbi, sosoknya yang pendiam dan cukup misterius menjadi poin lebih. Ia bisa begitu dingin dan perhatian di saat yang bersamaan. Sebenarnya karakter seperti Bobbi ini cukup bikin deg-degan karena mereka sulit ditebak dan lebih banyak memberi kejutan. 

Aku juga merasa tidak ada kisah permusuhan dalam novel ini. Bahkan karakter Ami digambarkan seperti putri, cantik dan baik. Ami benar-benar sosok 'pacar gebetan' yang tak patut dibenci. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah sosok Leila, sahabat Naira. Ia merupakan teman berbagi sekaligus pemberi saran yang baik. Bahkan Naira menyebutnya sebagai 'orang bijak'.

Dari novel ini, kita akan belajar bagaimana mengambil keputusan di saat penting, juga bagaimana menghadapi ketakutan demi menyambut masa depan.

"Bukan mati yang gue takutin. Gue nggak mau mati dengan penyesalan." (hal. 58)

Buat kalian yang membutuhkan bacaan padat tapi ringan, ringan tapi padat, novel Love Is The End ini bisa jadi pilihan.





Read More >>>
 

My Booklicious Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea